28 November 2009

Yang Sunyi, Yang Kembali

Idul Adha ini aku pulang tiga hari lebih cepat ke Bone. Meski sebenarnya deadline tidak lelah mengejar-ngejarku dan tim, aku memutuskan untuk menikmati masa 'pengejaran' ini.

Aku tiba dini hari, dan mendapati kota kecil ini gelap karena mati lampu. Aku membatin, membayangkan kesulitan beberapa hari ke depan tanpa energi satu ini. Sunyi,,, sensasi yang kurasakan ketika aku turun dan mengetuk pintu rumahku yang tidak luput dari gelap. Ibuku menjawab dari dalam, samar-samar karena deru mesin panther sang supir yang menunggu upah.Pintu terbuka, aku lihat dari keremangan lampu mobil, rambut ibu terurai, tubuhnya hanya dibalut sarung kotak-kotak cokelat, mengulurkan tangan berisi uang dari balik pintu. Seperti kebiasaanku, aku bayar di tempat, uang di saku tidak cukup.

Mobil berlalu, lalu kesunyian kembali mengambil alih. Di rumah hanya tinggal ibu dan bapak yang terlelap lebih dahulu. Begitu aku masuk ke kamar kosong rumah bagian dalam, ibu langsung menutup sekat pembatas ruang depan dan dalam. Sedikit aneh, karena biasanya, ibu akan banyak bercerita sebelum ia melanjutkan tidur.

Aku juga menutup pintu kamar. Sambil rebahan, aku mengambil handphone serta earseat-nya yang masih terpasang. Gelap tidak cukup mampu membatasi pikiranku untuk jauh mengawang, dan lagu yang kuputar tidak sanggup memaku ingatanku. Dalam jantung, aku merasa ada keibaan sedang menusuk, dan rasa ngilunya bercampur dengan lelah perjalanan empat jam.

***


Kadang aku benci untuk pulang. Aku tidak tahan melihat kesunyian di mata ibu, bapak dengan rutinitas yang telah ia jalani setengah abad, dan kakakku yang mengumpat-umpat karena fenomena mati lampu. Kata ibu, entah ini didrama atau tidak, sedikit lagi kakakku bisa gila. Aku menggigit bibir mendengar ceritanya, dalam sehari lampu bisa padam sampai dua belas jam. Sementara, sumber pendapatan kakak sangat bergantung pada listrik.

Aku benci pulang, aku lelah mengingat, dan aku sedih setiap kali ibu mengingat pengalaman-pengalaman yang kami lalui bersama. Sayangnya, bukan hanya ibu yang terus mengingat, Imma, salah seorang teman SMA, aku takut jika ia mulai mengaku kesepian tanpa aku dan teman lainnya.

Pada setiap pandangan yang kulayangkan, yang kulihat tidak hanya dinding rumah, foto, kulkas, lemari, botol minum. Aku melihat coretan pertamaku, pengasuhku, ulang tahun idolaku (???), Jepang, susu panas dan pipet...

Sunyi...sunyi..sunyi...kesunyian mereka hanya akan menemukan obatnya di hari raya, tahun baru, libur semester. Mereka tidak pernah mengeluh dengan pola-polaku.

Aku bergidik, apakah oleh waktu yang melambat, atau waktu yang bergelinding seperti bola salju. Lima tahun lalu, aku dan teman-teman seangkatan berpencar ke tanah lain. Kupikir selamanya. Saat itu, aku selalu rindu pulang, tak tahan rasanya jauh dari rumah. Kini, tiap kali ibu menelpon karena kesendiriannya, aku hanya bisa berjanji, tanpa pasti bisa pulang.

Aku kaget saat seorang teman bercerita tentang reuni dengan teman-teman kelasnya. Ternyata lima tahun sudah berlalu, cukup waktu bagi mereka yang pernah merantau untuk kembali. Ada pertanyaan bodoh yang terlintas, apa yang akan mereka lakukan di sini. Kota ini sepi, apakah hanya aku yang syok?

Apakah hanya aku yang mengamati kesepian bekerja di hati orang-orang yang kusayangi. Pernahkah ibu, bapak, Imma, kakakku memikirkan kesunyianku? Mungkin mereka tidak sesepi yang kubayangkan, justru aku yang patut dikasihani...

1 comment:

darmawati alimuddin said...

pulang memang kadang memilukan..entah pilu karena rindu pulang ataukah lelah untuk selalu pulang....