19 June 2011

7 April

sejak turun dari bangunan berlantai lima atau enam ini, hingga menyusuri sepanjang jalan brigadir M.Yusuf, kedua tanganku masih terlipat di dada. sesekali merengkuh erat lengan sendiri, memeluk tubuh yang dingin oleh sisa-sisa hujan dari langit. Aku tidak takut dengan hujan, aku tidak keberatan udara dingin menyentuh punggungku. Pelukan ini untuk jaga-jaga. Cukuplah remuk saja kurasa jantungku, tidak perlu berjatuhan di tanah. Aku menahannya di dada bersama sesak yang tak kunjung reda.

Angkutan kota berlalu silih berganti, memanggil-manggil untuk naik. Kali ini aku sudah tidak bisa mengangkat tangan sekedar memberi kode tidak akan naik. Sesekali suara klakson menyengat telinga saat aku tidak sadar langkahku ternyata menghalangi jalan mereka.

Kekosongan menyergapku, entah dari mana datangnya. Tidak kudengar lagu yang sering bermain di kepalaku, aku tidak bisa mengingat satu bait pun dari semua lagu yang sudah menemaniku selama ini. Jiwaku pergi entah ke mana... Tidak ada yang bisa kumaknai bahkan sakit yang kutopang sejak dari tadi tiba-tiba terasa hambar, detak jantung yang memaksaku semalam tidak tidur hingga pagi perlahan melambat. seperti menggenggam busa sabun, habis satu persatu, meski basahnya tetap terasa.

"Apa kau mencintai ayahmu?" tiba-tiba telingaku mengiangkan pertanyaan ini.

pertanyaan seorang teman perempuan yang pernah sering menjadikan kamarku tempat bernaung. Ia menanyakannya di sebuah malam, kala kami rebahan memandang langit-langit kamar yang rendah. Tanya itu lalu diterbangkan desau kipas angin, memberiku jeda untuk berpikir sejenak.

"lebih besar dari rasa engganku bilang cinta padanya", jawabku masih dengan menatap langit-langit. Malam itu aku tidak bisa terlelap mengingat ayahku.

di sepanjang jalan ini, ketika kesadaranku sudah kembali berpijak di kepala. aku tiba-tiba sangat merindukan Bapak. jauh waktu aku masih kecil, aku mematut diri di depan cermin saat ia baru saja pulang kerja. Aku menghambur ke arahnya. Bapak mendudukkanku di pangkuannya yang masih hangat karena diguyur matahari. Belum sempat melepas jaketnya, ia tersenyum melepas karet gelang di rambutku yang masih tipis, mengurainya lalu berkata 'anak perempuannya Bapak tidak boleh dandan, nanti ada yang ambil."aku tidak mengerti maksudnya, aku hanya termangu.

Alih-alih mencium pipi atau keningku, ia malah menggendongku lalu berpura-pura ingin melemparku keluar dari jendela. Jika sudah puas melihatku tertawa atau ketakutan, ia menaruhku di lantai, lalu aku pun bergelantungan di lututnya terseret mengikuti ke mana ia pergi..

Dan kedua tanganku masih akan merangkul bahuku sendiri, meski itu tidak cukup sanggup membuatku terlelap malam ini, karena aku sangat merindukan bapak....

11 June 2011

Jarak

ada saat jarak kita bersentuhan, kau di sana, aku di sini mengikat punggungmu dengan tatapan tanpa henti sedari tadi. apa kau merasakan jarak aman itu beririsan. Aku dapat merasakannya saat engkau makin menjauh, entah dengan beberapa langkah yang kau ambil atau dengan adegan verbal maupun non-verbal memagari ruang gerakmu dariku.


Ingatkah kau ketika kita menengadah ke langit hingga leher kita sakit memandangi ledakan kembang api di ujung desember. Kau bertanya kenapa semburannya berbentuk lingkaran, kenapa bukan persegi, oval, atau segitiga. Lalu kau menjawab sendiri, mungkin itu adalah pola alam yang tidak bisa diinterupsi manusia. Ingat jugakah kau saat malam tahun baru kau bersedih karena langit ternyata menumpahkan hujan air, bukan hujan bunga-bunga kembang api.


Aku merindukan suara gemuruh ledakan kembang api itu. mendengarnya aku sejenak tersadar dari lamunan tidak henti-hentinya tentangmu. Dentuman yang menciptakan hening sesaat dari ributnya tawa gelimu, dan bius bagi perihnya senyum itu mengiris hatiku. Ledakannya serupa lampu merah yang berhak menahan bayang-bayangmu berlalu lalang di kepala.


Saat kita bersama, waktu terasa berjalan seiring seirama, jam di handphone-mu selaras di handphone-ku, selalu menunjukkan angka yang sama. Engkau dan aku sama-sama merasakan relativitasnya waktu, melambat kala rindu mendera dan bergerak cepat saat menghabiskan waktu. Masihkah kau merasakannya, ataukah konsep waktu kita sudah berkebalikan? Kau jengah dengan pertemuan ini, waktu bagimu melambat, lalu berharap segera berlalu. Relativitas itu sudah tidak berlaku. Jarum jamku berputar ke arah kanan, sementara milikmu telah berputar ke arah kiri. Bukan lagi harmoni yang terdengar, tapi bunyi-bunyian yang bertabrakan karena nada perputaran waktu kita sudah tidak serentak.


Tatapanku pun makin lemah mengikatmu, kau beranjak tanpa menoleh. Tiada keraguan dalam setiap inci langkahmu. Aku membalikkan badan, dua lingkaran jarak kita pun menjauh. Kau telah mematahkan sayap-sayap rinduku padamu. Perlahan aku akan mencintai jarak itu, rindu tanpa harus menyatu. Karena dalam jarak yang meluruh pun saat bersamamu, aku tetap akan menutup mata, agar dapat kucipta dan kurasakan lingkaran jarakmu menyentuh jarakku.