22 June 2009

Hitam Putihnya Kebaya Wisudaku

Hitam-putih, oh apakah hanya ada warna itu dalam hidupku. Bulan ini aku akan menjalani ritual penting di dalam hidupku. Aku lalu teringat dengan kata Kak Syam, wisuda itu ibarat pernikahan, saat di mana perempuan ingin terlihat cantik di sepanjang hidupnya. Mungkin kalimat ini berlaku padaku. Aku sempat panik hingga tekanan darahku meningkat dari angka normal. Bingung akan mengenakan pakaian apa kelak pada hari itu.

Hitam-putih, ya, kali ini aku harus berkata bahwa itu akan menjadi warnaku di hari khusus 25 Juni tahun ini. Kebaya yang akan kukenakan berwarna putih dengan rok batik dasar hitam. Ibu yang membelinya untuk 'pesta' kelulusan SMA ku lima tahun lalu. Kini, melintasi jarak ratusan hari, tidak ada yang berubah dari ukuran panjang dan lebar tubuhku. Tidak perlu sentuhan mesin jahit sedikitpun, hanya tangan ibu yang tekun menyematkan payet-payet merah muda di pinggiran kainnya.

Kebaya itu kini tersimpan di lemariku. Belum ada waktu melicinkannya dengan setrika. Tiada niatku untuk menggantinya dengan yang lain. Sikap ini tidak lebih dari pemaknaanku yang kadang terlalu berlebihan terhadap hal-hal kecil. Karena pakaian ini masih layak pakai, uang yang mestinya kugunakan untuk membeli yang baru bisa kualihkan ke hal-hal "tidak penting" lainnya, misalnya sandal jepit kekecilan, sepatu kebesaran, pulsa 10ribuan yang habis dalam sehari, atau memenuhi hasrat ketagihan makan lumpia yang entah bagaimana awalnya, selama satu minggu terakhir ini.

Ringtone

"Entah mengapa ia tidak ingin lagi menerima telpon dariku. Sekarang sudah bulan Juni, lima bulan lalu ia masih memanggil-manggil namaku, menyanyikanku lagu yang sering ia dengarkan kala aku ia tinggalkan, meminta untuk tidak segera menekan tuts berwarna hijau di telpon genggamku. Masih segar di ingatanku, ia tidak akan berhenti bertutur hingga kelopak mataku mulai layu, dan di pagi hari saat terbangun, aku baru sadar semalam kami bercerita hingga pukul empat pagi."

"Apakah yang dia inginkan dariku? Benarkah sekedar ingin memberi karma? Tidak jenuhkah ia melukaiku? Berapa banyak air mata di kepala ini mesti kualirkan untuknya? Bodohnya aku selalu mengangkat tangan di hadapan kerapuhanku. Bisakah ku memohon padanya, berhentilah menjanjikanku apa pun? Aku salah telah mengira diriku setegak pohon bambu yang selalu ia ceritakan."