9 July 2013

Bertemu Budi Darma

Makassar, 25 November 2012

Untuk pertama kalinya saya komplain dengan cuaca hari ini yang tidak menentu. Mendung di timur, terang benderang di barat. Hujan rintik sebentar, lalu hujan besar, lalu turun level jadi gerimis. Masalahnya adalah saya membawa paper bag untuk salah seorang penulis favorit yang akan kutemui hari ini. Untung saja saya membawa payung jadi resiko basah-basahan bisa dikurangi.

Kabar mengenai kedatangan Budi Darma saya peroleh dua hari lalu dari junior saya: Riana, Meike, dan Nita. Ada semacam gathering penulis Indonesia, Budi Darma salah satu peserta yang turut hadir. Hati saya rasanya mengembang sampai ke sudut-sudut. Huaaaa… saya harus bertemu dengannya. Saya langsung mengontak Nita yang kini ternyata telah bekerja sebagai wartawan di salah satu media lokal dan bertugas meliput kegiatan ini. Kami berjanji bertemu di Hotel Aston, tempat di mana para penulis berkumpul sebelum menuju Fort Rotterdam. 

Budi Darma adalah penulis novel Olenka, satu-satunya novel bahasa Indonesia yang kubaca hingga berkali-kali. Seperti menengguk obat dan berharap manjur menghilangkan sakit, seperti itulah Olenka bagiku. Novel Olenka adalah salah satu pain killer ampuh. Menyadari bahwa ada sebagian diriku yang hidup dalam karakter Olenka, Fanton Drummond, dan Wayne Danton.

Lobi hotel ramai saat aku tiba. Rasanya sudah tidak konsen saat menitipkan payungku yang basah. Pandanganku menyapu isi lobi dan akhirnya menemukan Nita sudah bersamanya. Sosoknya tiada memperlihatkan kerentaan di usianya yang sudah menginjak 75 tahun. Ia berjalan sendiri, langkahnya mantap saat menenteng travel bag, tanpa tongkat. Sebagian rambutnya telah memutih.

Begitu mendapatkan kesempatan, saya lalu mengobrol dengannya sambil mengeluarkan novel Olenka milikku. Saya seperti melakukan verifikasi, mempertemukan apa yang saya baca langsung dengan pengarangnya. Wah saya sampai gemetar. Bertemu langsung dengan ‘pencipta’ Olenka. Yang saya baca kalau sedang sedih, yang kisahnya telah menemani dan membantu saya melewati masa-masa sulit selama ini. 

Ia lalu menceritakan bagaimana inspirasi menulis Olenka, seperti yang ia ceritakan di bagian akhir buku. Bahwa saat itu ramalan cuaca mengatakan akan ada badai salju, jadi Budi Darma dan beberapa temannya diminta untuk kembali ke apartemen. Saat lift akan menutup, seorang perempuan menahan lift. Mereka berbincang sejenak tentang tiga anak kecil yang juga ada di dalam lift. Kejadian itu ternyata menjadi pemantik bagi Budi Darma untuk menulis Olenka hingga rampung hanya dalam waktu tiga minggu.

“Sebenarnya ide dan material tulisan saya sudah ada, nah momen di lift itu adalah pemantik, keluar satu demi satu sampai jadi satu novel.”

Saya lalu memperlihatkan foto profilnya di sampul belakang, ia hanya merespon “Oh ini buku udah lama banget.”

Budi Darma lalu menceritakan potongan-potongan koran yang ada dalam novel (itu adalah idenya untuk memasukkan beberapa guntingan koran sebagai ilustrasi). Dengan antusias, ia bercerita tentang street preacher, pendeta jalanan yang ‘berdakwah’ di jalan-jalan Bloomington, cafĂ© yang menjadi setting tempat bekerja Olenka, tentang balon udara yang melintas di Indianapolis, tentang film Breaking Away yang dibuat pada saat ia masih kuliah di Indiana University, dan tentang pemandangan di belakang apartemen tempat tinggalnya.

“Memang ada orang yang bisa meramalkan masa depan orang tapi tidak bisa meramalkan dirinya sendiri. Ada yang bisa mengamati orang dengan cermat tapi tidak bisa mengamati dirinya sendiri,” kata Budi Darma saat aku memperlihatkan ilustrasi belakang apartemen itu. Aku bisa merasakan bagaimana ia kemudian mengingat lagi Bloomington yang telah ditinggalkannya puluhan tahun lalu. Pasti menyenangkan bisa menceritakan lagi apa yang sudah berlalu.

Kekuatan dari Olenka adalah perenungan Fanton Drummond akan apa-apa yang telah ia lakukan. Seperti Budi Darma katakan di awal buku: Karya sastra yang baik adalah yang kaya berkelebatnya sekian banyak pikiran. Kita bisa membaca, Fanton tidak berdaya dengan perenungannya sendiri, keentahan yang tiada akhir, dan kepasrahan. Budi darma menyematkan kalimat Chairil Anwar, Hidup adalah menunda kekalahan. Tidak ada sosok hero di dalam kisah Olenka, yang ada hanya orang-orang malang.  

“Olenka adalah hasil pengamatan saya dengan kehidupan orang-orang di Bloomington, ada istri yang berselingkuh, anak dengan keterbelakangan mental, orang-orang individualis. Khusus untuk Fanton Drummond saya memasukkan beberapa karakteristik ke dalam tokoh itu.”

Pertemuan kami harus berakhir saat bus yang akan mengantar rombongan ke Fort Rotterdam sudah tiba. Rasanya masih ingin ngobrol lebih lama. Saya lalu meminta beliau menandatangani buku dan berfoto bersama. Tidak lupa saya menyerahkan paper bag yang sudah saya siapkan sejak kemarin untuknya :))

3 July 2013

1 July 2013


You may not know me... But ever since your brother 'introduced' you in one of our conversations, I feel so much close. Like I've known you for long. Maybe because, all of my life I've been wanting to have a younger sister. Maybe you are the answer, I'm keeping the faith...

Don't grow too fast, I wish to see your pure sweet smiles...
Love,


Emma
One of the best thing about rain is that everything seems moves in a slow motion. Bisa sejenak meredakan kepanikan saat menyadari ini hari Senin, apalagi harus bangun sejam lebih awal dari jam bangun normal. Kamar dingin tertutup rapat tapi aku masih bisa mendengar rintik-rintik hujan lalu memikirkan pakaian yang baru sempat kucuci tadi malam. Kubiarkan saja diguyur hujan, aku hanya menyelamatkan seragam yang mesti dipakai hari ini. Langit masih gerimis, tapi kuputuskan untuk menembusnya berjalan kaki.

Kantor masih sepi saat aku tiba tepat pukul 07.00, sejam sebelum rutinitas dimulai. Kepagian ini karena aku harus membawa kunci lemari penyimpanan kamera. Salah satu rekan kantor akan berangkat lagi ke Samarinda untuk event serupa yang baru saja kami jalani di Sorong minggu lalu. Setelah selesai, aku menghambur ke pantry begitu tiba-tiba ingat tayangan final Piala Konfederasi Brazil vs Spanyol yang kutinggal tadi pagi karena harus ke kantor. Karyawan lain berdatangan, silih berganti masuk pantry untuk cek skor terakhir. Sebagian besar berlalu lagi, angka 3-0 memang sangat mencolok.

Cuaca masih mendung di luar, dugaanku. Udara makin dingin, jas yang biasa kubiarkan tidak terkancing, kututup rapat-rapat. Aku bertahan sampai selebrasi kemenangan berakhir, menyaksikan orang-orang di dalam layar merayakan kemenangan Brazil yang berjarak 12 jam dari sini. Far away, so close, kata Bono. With the satellite television you can go anywhere. Eforia nun jauh yang menghadirkan senyum di sela-sela letih yang masih kurasa akibat kegiatan kantor beruntun pekan kemarin.

Sepekan lagi bulan Ramadhan. Time does run!! Tahun ini, puasa lebih banyak akan kujalani di rumah Eby, hingga kontrakan rumah itu berakhir 1 Agustus nanti. Eby mengajakku pindah ke kosan barunya kelak. Namun kutolak karena kamar kos ku di kampus masih belum habis masanya. Belum mempertimbangkan untuk melanjutkan atau tidak. Hal-hal di luar kendali di luar perkiraan sering saja terjadi.

Aku belum menghubungi ibu dan bapak... Sabtu ini aku mendapat jatah off dari kantor. Semoga tidak ada kerjaan dadakan. Just wanna go home, feeling the afternoon sunshine behind my house while holding the fence, taking some deep breaths before starting over again...