29 August 2012

Sewindu


12 Agustus 2012
Hari ini, tepat 8 tahun lalu, saya resmi menjadi penduduk Makassar. Dengan niat menuntut ilmu, merantau ke ibu kota yang mendengar namanya saja langsung terbayang jauhnya perjalanan dan medan berliku yang mengaduk-aduk isi perut. Perjalanan ini adalah cobaan yang mau tidak mau harus dijalani, demi menginjakkan kaki di universitas idaman lulusan-lulusan SMA di Sulawesi Selatan.

Malam sebelum berangkat, aku melipat tumpukan pakaian yang masih hangat habis dijemur saat kakakku Ahsan yang 3 tahun sebelumnya telah meniti hidup di Makassar, muncul dari balik pintu.

“Lipat memang mi, mungkin ini terakhir kalinya lipat baju di sini,” ucapnya disambut tawa ringan ibu.

Aku terharu mendengarnya. Hari itu belum semenye-menye sekarang jadi perasaan untuk pergi lebih ringan. Pakaian kusiapkan banyak-banyak dibanding keberangkatan sebelumnya waktu ikut SPMB 2004.

Kabar kelulusan itu kudengar dari teman SMP ku,  Awis, yang menghubungi lewat hape bapak. Aku memang meminta tolong padanya untuk melihat pengumuman via internet. Kebetulan Awis sedang di Makassar. Malam itu saya dan ibu duduk di depan tv dekat ruang tamu tak jauh dari kamarnya.  Aku duduk di kursi, ibu melantai. Sementara hape kami biarkan menganggur, menunggu kabar dari jarak 150 km. Kabar itu datang juga, aku sudah siap dengan hasil apapun. Mata ibu tidak lepas dariku.

“Em, 812841 itu kode jurusan apa? Selamat ya kamu lulus di situ!” sahut Awis

“Iya? Huaaaa… Itu Ilmu Komunikasi… Alhamdulillah lulus ya…

Mendengar kata ‘lulus’ itu, Ibu sontak berdiri dan menghambur memelukku. Belum pernah kulihat ibu sebahagia itu.. Hingga hari ini, aku menganggap itulah kebahagiaan terbesar yang bisa kuberikan. Matanya merah sementara aku masih terhubung dengan Awis. Mata merah yang sama kulihat lagi saat ia pamit pulang ke Bone setelah mengantarku ke Makassar. Sempat terpancing ikut menangis tapi khawatir ibu makin berat melangkah, jadi aku menggodanya dengan tersenyum seolah semuanya akan baik-baik saja.

"Eh, kamu bagaimana, Wis?"

Sayang sekali temanku tidak lulus tahun itu, namun dicobanya lagi hingga 2005 ia bisa lanjut kuliah juga, setahun di bawahku hehehe.

FIS III tercinta :") (6 Januari 2005)
Kehidupan kampus, mulai dari Pra-Ospek hingga Wisuda kujalani selama lima tahun. Kampus adalah tempat teraman, terkadang malah jadi semacam escapism. Tata letak almamaterku ini didesain seperti sebuah kampung sendiri, seperti perumahan yang menepi dari riuhnya jalan raya yang tidak pernah padam oleh lampu kendaraan di malam hari. Agaknya itu menjadi alasan hingga hari ini aku masih belum beranjak dari kawasan kosan belakang Ramsis Putri, dengan resiko lokasi kantor harus ditempuh hingga satu jam. Seorang teman kantor pernah mengajak tinggal di rumahnya yang lebih dekat dari kantor. Tapi tidak ada yang sepadan dengan tambak di samping rumah kosan, puncak Gunung Bawakaraeng yang terlihat dari jendela kamar, dan aroma jemuran nan wangi setiap melintas di depan kosan yang berjejer hampir di sepanjang jalan masuk.

Delapan tahun berlalu, menjadi saksi pelebaran jalan, pohon-pohon rindang tepi jalan sudah ditebang.  rawa-rawa yang ditimbun untuk ditanami ruko-ruko baru yang berdampak jalanan tergenang jika musim hujan tiba , aksi-aksi mahasiswa yang lebih sering menjadi bulan-bulanan media dan bahan olok-olok mereka yang hidup mapan, bikin hati jadi perih, tempat-tempat nongkrong makin banyak yang kerap menggodaku turun dari angkot. 

Pintu Satu Univ Hasanuddin sebelum renovasi (2 Maret 2005)
Tahun ajaran baru tidak lama lagi dimulai. Kosan tempat tinggalku kedatangan tiga penghuni baru, semuanya mahasiswa baru dengan koper besar-besar dan dispenser yang tidak pernah off. Beban listrik bertambah, jadinya pompa air bermasalah, air tidak mengalir ke lantai dua tempatku berada. Fiuh, serasa de javu, tujuh tahun hidup di kosan, tidak lengkap gelar sebagai anak kos jika tidak angkat-angkat air hehehe…

2 comments:

Adityar said...

Banyak hal yang berubah, Kak ya?
Ada banyak memori postingan ini :)

Emma said...

sori baru liat komen ini hehe. iya, itu hobiku kayaknya, beresiko tapi :D