1 April 2014

Not really in my mood to write, but I must post this. Can't put till tomorrow to let you read this :D She's my new crush, a girl with a name as in toilet. Karena dia menulis, she has a blog, put her email adress on it, but most important: she is Molly of Sherlock. Ladies and gentlemen, I give you Louise Brealey. We, fans, fancy call her Loo.

Tapi, saya akan lebih menyukai Molly...

Terima kasih untuk Mark Gatiss dan Steven Moffat yang telah menghadirkan karakter baru dalam franchise Sherlock. Karakter manis yang menurut saya adalah kunci dan garam di serial ini. Yeah, Sherlock admitted it.

Jika selama ini, keberanian dan potensi keliaranku tergambar dalam karakter Alice di Closer (2004), maka keraguan, keluguan, kesendirian, penerimaan akan 'kekejaman' oleh objek cinta melekat erat pada diri Molly, and it reflects me no better way.

Here are some scenes I grabbed... I feel I've never been so Molly :)

There are moments, saat kita ingin sekali merasa berarti bagi orang yang paling kita kasihi, namun begitu sadar bahwa kita bisa saja tidak berarti. Meski chance untuk dicintai balik sangat kecil, at least dengan membantunya sudah bisa membuat lega dan segala usaha menjadi sepadan. Molly akhirnya memberanikan diri menyatakannya pada Sherlock, meski dia merasa tidak berarti. She knew what to do.

Oh, Molly. That look. I've been there many times. Masa saat apa yang kita dengarkan adalah kebenaran yang kita nantikan sekian lama, dan saat terungkap, keadaan telah berbeda.

This... When the best thing could ever happen is to look him walking away....

Masih banyak adegan lainnya. But I could never think of anything else but me, everytime I replay them.



No comments: