10 August 2009

Maaf, Sheera...

Sheera yang terhormat...

Sebelumnya, maafku atas kesombonganku, tidak menegurmu padahal aku tahu engkau ada di sana. Aku memang tidak mengharapkan kehadiranmu, apalagi ibumu. Sengaja kubertahan di kursi pengunjung acara kawinan itu, agar kita berdua tidak bertemu muka. Kutunggu hingga engkau yang terlebih dahulu pergi dari ruangan itu.


Berat bila harus berbasa-basi denganmu. Tidak ingin aku melihat rona merendahkan di mata ibumu. Engkau masih seperti dulu yang kukenal, tidak bisa mengambil keputusan dengan kemerdekaanmu sendiri. Apa yang kurang dari dirimu, Sheera, jika harta bukanlah apa-apa bagimu?


Engkau tidak pernah merasakan rindu...Engkau miskin rasa...Engkau tidak pernah butuh pada siapapun...Engkau hidup dalam pagar menjulang buatan ibumu...Pagar di antara aku dan engkau...Aku benci dia...


Tidak perlu kau sadarkan betapa kurangnya aku, karena kau tahu tidak ada yang bisa kubanggakan dari diriku. Bersenang-senanglah dengan pikiranmu sendiri. Tertawailah pakaian yang kukenakan, make up murahan di wajahku, dan sepatu kekecilan di kakiku yang semakin mekar ini.

Sheera, bukan maksud menolakmu, tidak ingin kupaksakan senyum di hadapanmu, sahabatku. Aku hanya ingin senyum terindah untukmu, bahagiaku dengan keadaanmu, saat aku tahu malaikat kecil kini menghuni tubuhmu.


Tanpaku tidak ada ruginya bagimu, ruang kosong itu tidak akan pernah ada, hanya sisa ingatan yang selalu bisa kau tertawai dan kau sesali...
Maafkan aku, Sheera...

No comments: