12 May 2008

The Men in Night Dreams

Ada yang bilang mimpi itu bisa jadi obat. Apa yang kita sangat inginkan di realitas nyata yang nyata tidak mampu diraih atau disalurkan, akan tertampung dan tersalur melalui mimpi. Bukan hanya pelepasan bagi hasrat, namun juga bagi segala ketakutan beku yang tersimpan dalam benak. Ada yang menganggap mimpi hanya sekedar bunga tidur, rangkaian firasat alamat akan ada sesuatu terjadi, atau bahkan sebagai petunjuk pamungkas dalam pasang nomor judi butut.

Sudah berulangkali aku bangun terkaget dan ketakutan karena mimpi malam hari, tidak jarang air mata yang berurai dalam mimpi (saking sedihnya barangkali) sampai terbawa ke alam sadar. Rasa takut yang sanggup membuat jantung berdegup kencang dan sesak, akhirnya takut memejamkan mata untuk meneruskan lelap tidur.

Dari sekian ribu mimpi yang telah kulalui, banyak juga yang membahagiakan, membuat tersenyum ketika mengingatnya, dan menyesalkan kenapa mimpi itu berakhir begitu cepat, kadang memaksa untuk tidur lagi dan berharap mimpi itu berlanjut. Fitrah manusia pasti menginginkan yang baik dan menjauhi apa yang tidak baik bagi dirinya. Begitupun mimpi, sebelum aku terlelap, kuselipkan doa agar diberi kesempatan menjelajah dunia mimpi yang indah.

Aku pernah ‘bertemu’ dengan Ridho ‘Slank’ Hafiedz, David Trezeguet, Chris ‘coldplay’ Martin, dan terakhir, Miracleous Devoners, Muse. Rasionalisasi untuk semua ini adalah jelas, aku mengidolakan mereka pada periode waktu yang berbeda. Tidak hanya para tokoh popular yang baru kusebutkan, orang-orang disekitarku yang menyita waktu untuk kuingat atau menjadi beban sepanjang hari, yang pada mereka ada beragam ekspektasi, juga sering mampir jadi figuran dalam bunga tidurku.

dontkidyourself

No comments: