4 May 2008

demi GAIA Polloni

Rabu: 19.55 Aku dan ka harwan bersama-sama melangkahkan kaki ke Extra Net namun dengan tujuan berbeda. Jika aku ingin membuat akun baru, ka Harwan tiada lain ingin hunting buku-buku baru ataupun buku lama yang telah diincarnya sejak dulu. Butuh kesabaran menunggu download-an yang keteteran akibat banyaknya pengguna internet. Namun ka Harwan adalah orang dengan ketelatenan dan ketekunan yang tidak perlu diuji lagi, tidak seperti aku yang begitu mudah meng-cancel bahan yang kucari hanya karena bosan menunggu angka progresif menunjukkan 100 persen.

Rabu: 11.40
Bertemu teman-teman di pasar alias kantin anak-anak (tepatnya mahasiswa) Sospol. Layaknya hari-hari lain, para manajer pasar: Dwi, Darma, Echy, Icha, Wuri, Susan, dan Bunda sudah menghiasi bangku yang disediakan mace. Di bangku sudut lain terisi oleh anak-anak Sospol jurusan HI dan oh… ternyata salah seorang anak kosmik lain dengan usia yang jauh di atasku (hehehe…hiperbolanya), dialah abang Zeger. Sang Abang menghampiri kamidan bercerita pengalamannya saat menjadi moderator Riri Riza. Perlu diketahui, Abang yang bernama asli Rahmad M. Arsyad ini menamatkan S1 Komunikasinya dengan mengangkat film GIE karya Mas Riri Riza sebagai objek penelitian tugas akhirnya. Bukan suatu kebetulan, bukan? Sudah menjadi sebuah kelaziman, kehadiran Abang tanpa lelucon dan calla khasnya bagai nasi goreng tanpa nasi. Untuk kesekian kalinya tawa berderai oleh pria agitatif ini, bukan hanya oleh cerita yang ia forumkan, namun juga ekspresi abang adalah poin lebih yang menambah kelucuan.

Rabu: 20.29 Sebuah pesan dari salah satu provider situs pertemanan masuk ke dalam inbox emailku. Setelah mengikuti instruksi di dalamnya, akhirnya aku resmi menjadi anggota. Menjadi member saja belum membuatku plong. Aku belum mengerti benar seluk-beluk penggunaan fasilitas yang ada di dalamnya. Yang aku tahu, di profile ku terpampang sebuah tanda tanya besar (dalam arti denotatif ya) karena aku belum memajang ‘potret diriku’.

Pada saat dilanda Bingung dan mengkerut dengan tampilan halaman mayaku, Noel tiba-tiba muncul lewat jendel YM: ‘aku turut berduka mendengar keadaan nenekmu’. Noel awalnya tidak menyadari kehadiranku sebelum aku membalas pesannya. Ia buru-buru sign back dan bertanya banyak soal duka yang kualami hari ini. Kujawab dengan bahasa yang terpatah-patah disertai harapan Noel paham dengan pesan yang kusampaikan. Obrolan kami merambah ke peristiwa wawancara yang kacau saban hari. Ia mengeluh, sambil bergurau mengatakan bahwa telah salah duga selama ini padaku. :p ‘Dont be displeased with me, Noel’, bela diriku. Lalu ia balik menceritakan pengalaman serupa bertahun-tahun lalu saat awal-awal ia mencari kerja. Noel adalah seorang pria paruh baya, menjadi backpacker di kala muda, dan sangat menyukai warna biru,

Rabu 12.15
‘Kalian janganlah cepat-cepat lulus. Soalnya saya nda ada teman nanti.’ Permohonan nyaris memelas ini diajukan oleh Bang Zeger dan ditujukan kepada beberapa adiknya di Kosmik yang sedang mengerjakan skripsi. ‘Karena kalianlah, saya kembali ke Makassar.’ Oh, abang, perjuanganmu mendapatkan perhatian kami mungkin akan sedikit terkendala. Salah seorang teman tiba-tiba mengalihkan perhatian, ‘Bang kenapa mesti kuliah di Makassar? Karena dia ya, Bang? (nama dirahasiakan,red)? Oooo…“He left everything for her…”, timpalku yang dibalas bunda, ‘No, he didn’t left anything, coz he has nothing!!!’ Hahahahha…Abang, maafkan adik-adikmu ini.

Rabu 21.30 Noel mengakhiri obrolan, sudah saatnya istirahat, katanya. Kumaklumi, Noel berjarak dua jam dariku. Namun, tidak seperti percakapan sebelum-sebelumnya yang tiada lupa ku simpan, kali ini, entah aku sedang memikirkan apa hingga jendela YM kututup dengan tiba-tiba. Not again…

Kembali kutengok akun baruku. aku mengikuti saran bunda untuk mencari seseorang lewat Google. Sekali menekan tombol enter dan memainkan mouse di tangan kanan, aku akhirnya bertemu juga dengan orang yang kucari. Seorang psikiater berkebangsaan Italia yang berdomisili di Como. Seorang yang padanya salah seorang lelaki rela left everything for her…

Bersambung...

No comments: