10 February 2011

Bianglala (bag.II)


Aku memutuskan pulang meski diantar tatapan mengejek sang penjaga bianglala. Aku mengutuk dalam hati, semoga hujan segera turun. Kau tidak pernah ragu pulang, karena kau sudah hapal arahnya hingga tidak akan tersesat. perjalanan pulang terasa lebih singkat dibanding saat engkau meninggalkannya.

Mataku tidak lepas dari kaca mobil angkot bagian belakang yang menyuguhkanku pemandangan jalanan yang masih basah. Aku sengaja memilih duduk di pojok, tempat favoritku di mana aku bisa memandang strategis ke mana pun aku mau. Kutukanku ternyata bekerja, hujan mulai turun membentuk cincin-cincin air di permukaan beton berlapis aspal.

Dalam kisah sang alkemis , ada sebuah kisah tentang raja salem yang perisai dadanya terbuat dari emas. Raja salem yang bijak. Ia tidak ragu mengubah dirinya menjadi batu bergulir ketika seorang pencari batu mulia mulai lelah dengan pencariannya. keletihan membuatnya menyerah padahal ia tidak tahu hanya perlu sekali kais lagi ia menemukan apa yang ia cari. Raja Salem sangat gemas. Ia mengubah dirinya menjadi batu berlian itu lalu menggelinding ke kaki sang pencari itu.

Aku penasaran apakah Raja Salem benar-benar ada dan kapan ia akan menjadi batu yang menggelinding ke arahku. Sekedar untuk menyadarkan tidak ada yang sia-sia dengan kesungguhan dan ketulusanku dan bilakah sudah saatnya aku harus berhenti mencari.

Hujan makin deras menerjang, sopir angkot sambil mengomel menyuruh kami merapatkan jendela mobilnya yang sulit tertutup. Mobil melaju mengurangi kecepatan, genangan air yang belum juga surut, makin menjadi-jadi. Aku menopang dagu, memandang jalan yang sudah mulai kabur oleh derasnya hujan, hanya lampu mercuri yang bisa menerobosnya. aku berusaha mengenali hujan riuh ini, ketika tiba-tiba samar-samar kudengar handphone ku berbunyi. Tidak ada satupun penumpang yang terganggu atau menyadarinya, semua resah terjebak di kotak berjalan berwarna biru muda. Aku meraih dari kantong jeans hitamku yang mulai pudar. Mendadak Aku merasakan hujan darah di dalam tubuhku kala melihat nama yang tertera di layarnya. Perutku tanpa menunggu perintah bergejolak lagi.

Nada deringnya masih mengalun berbaur dengan anggukan ritmis penumpang di depanku dengan headset di telinga, kakinya mengentak-entak pelan tapi tidak seribut kaki hujan yang menginjak-injak angkot ini yang mulai seirama dengan detak jantungku. Entah dari mana datangnya, aku merasa sesuatu merayapi hati. Sejenak aku mau percaya dengan tulus ada hal yang memang layak terjadi di dunia ini, tanpa harus menunggu datangnya kehidupan lain. aku mengenali hujan ini. Nama itu masih berkedip-kedip seperti mengetuk-ngetuk layar monokromku. Aku menarik napas… hujan tampaknya tidak akan berhenti sampai pagi.

3 comments:

harwan ak said...

Petanda itu makin menguat. Saya percaya kita akan jadi novelis hebat. Teruslah menyihir kata.

Emma said...

heheheh,,,mohon bimbingannya kak :)

darmawati alimuddin said...

saya sepakat kak harwan...:))