11 September 2010

Lighting A Candle

Banyak alasan untuk marah, tapi lebih banyak alasan untuk meredam marah. Kira-kira inilah pelajaran moral yang selanjutnya mengantar saya pada pelajaran moral lainnya di hari ini. Saya hendak marah pada teman-teman SMA yang siang/sore tadi nyekar ke nisan salah seorang sabahat kesayangan kami, tanpa memberi kabar sedikit pun. Saya baru tahu saat secara tidak sengaja bertemu salah seorang dari mereka malam ini, di warnet ini.

Saya sedih dan marah. Jauh-jauh hari saya memang sudah meniatkan untuk ziarah kubur sahabat kami itu. Tapi yang terjadi saya merasa ditinggalkan, terlupakan. Mungkin saya marah karena alasan terakhir: merasa terlupakan oleh teman yang selama ini saling menguatkan. Hal ini makin dikukuhkan oleh kenyataan bahwa sebenarnya saya bisa pergi sendiri bersama bapak yang kebetulan berkampung tidak jauh dari lokasi makam Melisa, sahabat kami.

SMS komplain bernada 'murka' dan kecewa sudah selesai saya ketik dan siap kirim. Saya menarik napas panjang, jarang sekali saya menunjukkan amarah pada teman-teman sendiri. Akhirnya saya meletakkan hape, menatap layar komputer sembari mengumpulkan alasan-alasan kenapa saya tidak boleh marah, kenapa saya harus men-delete pesan teks itu.

Saya malu pada diri sendiri, saya marah lebih karena perasaan 'terlupakan' atau 'terabaikan'itu, bukan karena saya tidak bisa nyekar. Betapa tidak enaknya perasaan itu. Tapi pada akhirnya saya harus memaafkan dan memaklumkan kondisi ini, berusaha menyalakan lilin agar gelapnya amarah ini bisa hilang. Berusaha menenangkan pusaran ego yang meraja. Saya mestinya malu, ingin marah karena demi membela ego sendiri. I need to be stronger at this....

2 comments:

Sebuah tempat seperti telaga, bernama safar.... said...

yahh..inti dari bersabar adalah dimulai pada saat-saat seperti ini, na bilang bang benyamin : ibarat pilem, bulan puasa itu trailernya doang (dari blognya kak yudi)

tetap semangat em, bukankah dengan kesabaran matahari, bumi ini masih terang di siang harinya :D

Emma said...

kemarin saya nonton semifinal US Open subuh2 soalnya waktu siangnya amerika, saya kaget, kenapa? saya melihat matahari di televisi. wih itu matahari barusan ada di atasku td siang, eh adami di atasnya amerika, hehe. jadi sebenarnya kita bisa menyampaikan salam lewat matahari ya, lebih pasti daripada titip pesan lewat angin, tidak bisa diliat hehe...

Anyway, thanks kak, your words are medicine..