29 June 2010

Pilihanku

Big girls don't cry. Tapi tadi malam aku menangis di tengah suara ibu yang sedang menelponku. Sebenarnya ini tangisan yang terencana. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, ibu tiba-tiba bertanya tentang pilihan hidupku. Sejak aku menunjukkan tanda fisik perempuan akil balig hingga tadi malam, aku tidak pernah bercerita pada ibu tentang masalah keseharian pergaulanku. Aku sedang bertengkar dengan siapa? Aku sedang menyukai siapa? Bagiku itu adalah hal yang sensitif untuk diceritakan, khususnya kepada orang tua yang sedikit konservatif. Aku suka mengubur dalam-dalam perasaanku sendiri.

Hingga tadi malam ia bertanya. Entah, kenapa aku memaksa diri menangis. Aku bercerita seperlunya, sembari sesekali mengalihkan pembicaraan. Tembok maya pembatas perasaan ibu dan anak itu masih kokoh berdiri. Surely, I didn't see it coming. This is just too sentimental.

2 comments:

dwia said...

knapa ki sayang????Care to Share??i'm here....

uweepunyablog said...

sa dulu jg bgt emz..yg sabar ya... lama kelamaan pasti kmu akan curhat jg sm ibu mu..dan beliau akan selalu mendengarkan semua yg ingin dibagi anaknya...