6 March 2010

Tentang Nadi Harap yang Terus Berdetak

Tidak ada orang di dunia ini yang suka pada orang putus asa. Orang senang dengan mereka yang punya gairah, semangat hidup, dan keyakinan. Sayang aku seperti tidak memiliki semua itu. Akulah orang putus asa itu. jadi bisa kupastikan, orang-orang tidak senang bergaul denganku. Sebaliknya diriku bisa begitu hidup berada di tengah orang-orang dengan sifat-sifat yang baru kusebutkan.

Pagi ini aku bangun telat (lagi-lagi telat), rumah dalam keadaan kosong, mataku masih kabur, saat aku menuruni tangga curam menuju lantai bawah. Pada tangga itu kutemui lembar formulir kunjungan ke Australia. Kubaca dengan seksama, rupanya semacam study tour ke empat negara bagian di benua kangguru itu. Ini pasti adikku yang membawanya.Adikku tiba dari Makassar tadi malam. Ia juga heran melihatku ada di rumah. Kukatakan padanya, masa tugasku sudah berakhir.

Aku penasaran dengan study tour itu, biayanya pasti mahal seperti aku tahu ia sangat menginginkan ini. Tapi aku bangga pada adikku karena dia berani bercerita pada ibu meski kemungkinan lolos sangat kecil, tidak seperti aku, penakut dan mudah menyerah. Aku suka menyimpan segala sesuatu bahkan impian sederhana tiap manusia hanya untuk diriku sendiri. Aku terlalu cemas untuk dikatai bodoh.

Dan ternyata memang kans itu belum untuk dirinya. Ada kebutuhan lain yang tak kalah mendesak. Belum lagi deadline pembayaran sudah dekat. Aku sedih mendengarnya, aku tahu betapa sedihnya melewatkan kesempatan, saat kesempatan itu ada dan aku tidak merengkuhnya. Bukan hanya karena soal biaya, tapi lebih pada bodohnya diriku yang terlalu senang bercemas-cemas ria. Janganlah engkau meniru kakakmu ini.

Oh, adikku, seandainya saja hak ku sudah ditunaikan, pasti akan kuberikan padamu, untuk impianmu. Aku tidak ingin engkau seperti aku. Jika pun tidak jadi, berarti itu hanya tertunda. Aku berharap nadi harapanmu terus berdenyut, agar aku juga bisa turut bahagia.

Watampone, 06 Mar 10

No comments: