21 March 2010

Tak Mampu Kukatakan Sayang Padamu

Tadi malam aku mimpi mendapatkan kabar ibuku sedang sakit. kata teman yang mengabarkan dalam mimpi, ibu terjatuh di kamar mandi. Aku biasa ketakutan sampai terbangun jika bermimpi buruk. Tadi pagi aku bangun dengan rasa tidak enak, aku memikirkan ibuku. Bagaimana kabarnya ia di sana. Ia kini mudah terserang sakit, mungkin karena ia kesepian, bukan karena kondisi fisik yang makin menurun seiring usia. Tapi perasaanku ini tidak cukup menggerakkan, karena aku tidak kunjung menghubungi nomor hapenya.

Sudah tiga bulan aku ganti provider kartu seluler. Mulai saat itu ibu jarang menelpon, karena aku melarang, biaya antar provider itu sangat kejam. Jadi, kubilang padanya agar mengirimkan pesan teks saja jika ia butuh sesuatu. Awalnya kubilang, "sms saja Mak, nanti saya yang telpon ki". Tapi dasar anak tidak tahu diri, aku tidak pernah menanyakan kabarnya.

Pernahkah kawan memikirkan kerinduan ibu pada anaknya? Aku hidup dalam keluarga yang tidak pernah mengekspresikan kasihnya lewat kata-kata. Termasuk ibuku, dia tidak pernah bilang sayang padaku, tapi ia selalu berkata pada perbuatan dan perlindungannya padaku. Kadang aku berpikir lebih baik demikian, karena kapan ia berkata langsung, berarti ia benar-benar mengatakannya dan itu akan membuatku sedih. Aku juga tidak pernah bilang sayang, aku malu hingga aku berlindung lewat sms. Hanya lewat sms, aku bebas berkata sayang, berkata,,,bukan mengucapkan.

Aku ingat suatu kali, aku terserang penyakit tipes, kala itu aku masih kelas dua SD. Selama sebulan aku tidak menginjakkan kaki di sekolah. Aku sakit saat ujian kenaikan kelas (caturwulan III) sedang berlangsung. Kecil-kecil begitu aku mulai khawatir, aku bergelayut pada ibu bertanya bagaimana nasibku, nanti aku bisa tinggal kelas, Mak,...

Jadi ibu menunggu dua minggu sampai aku cukup bisa berada dalam posisi duduk. Ketika hari itu datang, ibu mengambilkan aku beberapa kertas folio bergaris dan sebatang pulpon PILOT. Ibu bertanya apa aku sudah mampu jalan tanpa digendong, aku bilang sudah bisa Mak. Tapi ibu mana yang rela melihat anaknya yang habis sakit kesusahan, karena itu ibu menggendongku di punggungnya. Berangkatlah kami dengan jalan kaki ke rumah wali kelasku, dengan maksud melakukan ujian susulan supaya tidak tinggal kelas seperti yang kukhawatirkan.

Sepanjang perjalanan, ibu bercerita tentang harapan hidup tentu dengan bahasa yang dipahami umurku. Suaranya terdengar menggema menembus punggungnya, dimana kurekatkan salah satu telingaku kala ia menggendongku.

Setiap kali mengingat kejadian itu, mataku jadi perih. Ingatan itu sering datang jika aku sedang kesal padanya. Tapi tadi pagi ingatan ini berkelebat lagi, bukan karena aku kesal, tapi gara-gara mimpi itu. Semoga ibu baik-baik di sana.

2 comments:

Victor Sosang said...

two thumbs up
****
victor dan sosang.

Emma said...

thanks kak
mana tulisan baruta?