24 November 2010

Hole

Aku pernah tidak takut memandang matahari. Aku percaya di luar selaput langit yang membungkus bumi, ada negeri cahaya. Saat itu aku lebih yakin matahari adalah sebuah lubang besar bagi cahaya dari negeri itu untuk menerobos atmosfir sampai ke tanah yang kita pijak, digeser dari timur ke barat. Seperti juga biji-biji bintang yang tertata rapi, bagiku mereka seperti lubang-lubang kecil bekas tusukan-tusukan jarum ke permukaan langit lalu. Kini aku takut dengan lubang-lubang besar di permukaan hatiku karena kepergianmu. Akupun tidak menemukan cahaya di sana. Lalu dengan apa aku harus menutupinya duhai engkau yang memberiku kehilangan.

Salahkan aku karena menganggapmu cukup kuat jika aku pergi, yang anggap kau akan tetap kokoh meski badai sunyi yang menghantam, ketika cerita-cerita kita akhirnya sampai ke epilog dan kitab kisah itu harus mengatub. Aku bodoh telah menukarkan rasa tidak tahuku dengan sakit hatimu. Kau tidak mau melihatku kemudian. Tubuhku lalu merasa sengat kala pertama kali engkau memalingkan wajah menjauh. Saat aku setia menunggu mata kita bertemu namun kau tidak melihat apapun kecuali rasa benci yang menjadi-jadi. Sejak saat itu, aku tidak punya pilihan selain menangisi kesepian yang tak ada. Mengenangmu tidak lebih sebuah cara memaafkan diriku.

No comments: