13 June 2013

Dini hari tadi, aku terbangun oleh tangisan Ara. Hujan deras turun sejak tadi malam. Hujan yang membuatku terlelap lebih cepat dari malam-malam sebelumnya, meninggalkan Dwi dan Ka Yusran suaminya larut dalam cerita dan tawa silih berganti. Berada di dekat mereka, aku seperti berada di rumah, pembicaraan-pembicaraan yang selalu kurindukan dan telah lama hilang dalam keseharianku.

Ara menangis, meronta, sesekali menarik kerah baju atau mencoba mengangkat ujung bajuku. Tangisnya membuatku terjaga sesaat. Aku memeluknya dan ia mengucapkan No...! No...! berkali-kali. Usianya hampir dua tahun. Tadi malam, saat aku tiba di Sudiang, ia sudah terlelap di pelukan ibunya. Mungkin karena alasan itu, ia tidak mengenalku dan malah mengira aku ibunya. Ia minta nenen... Ara oh Ara... Ibu dan ayahnya akhirnya ikut terjaga, menarik tubuh Ara yang tidak mau lepas dariku. Jari-jarinya menempel erat seperti laba-laba, hewan favoritnya.

Ara sudah tenang didekap Dwi, aku melanjutkan mimpi yang terpotong. Hujan tidak membiarkanku terjaga lebih lama, Kondisi yang sangat beresiko sebenarnya, karena esoknya harus ke kantor lebih pagi. Kekhawatiranku benar, aku salah perhitungan. Dari Sudiang ke kantor butuh setengah jam tambahan dari durasi perjalanan Alauddin-kantor selama ini. Telat lagi tiba di kantor... Padahal baru kemarin sore, atasanku mengirimkan pesan meminta kami untuk lebih disiplin.

Dwi akan berangkat ke Baubau, katanya Kak Yusran sudah sangat rindu kampung halaman. Aku menyempatkan diri ke Sudiang. Sekedar bertemu, bercerita sejenak tentang rambutnya yang baru saja di-smoothing, menyambung kisah tentang Athens yang belum selesai-selesai sejak ia kembali menginjakkan kaki di sini. Namun sisa energiku tidak cukup menemaninya sampai larut. Aku tertidur dengan remote tivi di tanganku.
 

No comments: