11 January 2013

I Supposed to Post This Last Night

Dwi,

Hari ini saya tiba lebih awal di kantor dari hari-hari biasa. Mungkin karena pengaruh habis ditegur karena keseringan terlambat atau karena malam tadi saya hanya tidur satu jam. Maybe so tired that I couldn’t sleep. Empat hari saya tidak berkantor di tempat biasa….

Mungkin engkau mendengarnya juga lewat twitter, kalau beberapa daerah terendam banjir. Hujan lebat seolah tidak berakhir sejak hari pertama di tahun 2013. It was raining like mad, sedikit lagi seperti di film Inception. Pohon-pohon di tepi jalan bertumbangan. Di Camba, yang selalu kita lewati kalau pulang ke rumah di Bone sempat terputus karena banjir dan longsor. Angin kencang menerbangkan atap rumah. Kosanku masih aman. Hanya saja angin kencang bersama hujan kerap membangunkanku di tengah malam yang pekat karena mati lampu. So, two nights I slept under candle light. I wonder kalo di Athens juga pernah mati lampu :p

Selama empat hari itu, saya pulang balik Maros-kantor di Jalan Nusantara, mengurus logistik bantuan dan dokumentasi sana sini. Pulang lewat jam 10 malam, saat hujan agak reda, jalan-jalan masih basah memantulkan cahaya lampu jalan dan lampu kendaraan, melintasi jalan yang mulai sepi dan dinginnya menggigit, mengingatkanku waktu kita dan teman-teman pulang dari bazaar di Blue C buat bina akrab. Sometimes in September 2004, melintasi jalan petta rani akhirnya berlabuh di rumah kak Toar.  

Malam tadi, kami pulang lebih awal, tugas sebagian besar sudah tuntas. It means saya bisa lebih banyak istirahat dan menyelesaikan hal lain yang mestinya sudah selesai sejak minggu lalu namun tertunda lagi karena kegiatan ini. Sampai di kosan, perutku agak begah, pasti karena kombinasi bakso dan kopi susu waktu singgah makan di perintis. Tapi bukan itu yang membuatku terduduk lama di depan kipas angin, merangkul kedua lututku. 

I remembered that day how upset you were, when someone texted you back using only emoticons. Saya mengalaminya hari ini dwi. Asam lambung naik, migrain datang tanpa diundang. All I wanted to do last night was to have some chat with you.

:’(:’(

Masih ada juga ya yang tidak paham jika kata bisa menjadi pedang (there is ‘word’ in ‘sword’). Atau kita yang terlalu mengambil hati dan memberi makna yang terlalu dalam. Seminggu terakhir rambutku yang mulai panjang sejak terakhir kita bertemu kembali berguguran. Semoga tidak sampai seperti daun maple dan pohon ek yang berguguran di tempatmu. Sehari aku bisa makan lima kali, seperti semuanya bisa masuk di perut. It’s a warning sign, something is wrong with my system. 

I keep seeing myself as in a movie. Mencari kalimat pelipur lara dalam dialog-dialognya atau lirik-lirik lagu. Bet u might feel the same. Haven’t you ever asked why we were born with this kind of mind? Semua kata-kata bijak terkadang terdengar seperti apologi bagi kelemahan-kelemahan kita, untuk setiap hal yang tidak bisa kita raih. Seberapa dahsyat kekuatan kata-kata itu tidak akan menembus tabir kekosongan. It’s real, unbeatable no matter how many days have gone, how many songs we’ve listened to. Just like what I felt last night, playing some happy songs to change my point of view, tapi ternyata telingaku sudah setting default hanya bisa memproses lagu menye-menye. 

Sesekali berlama-lama di depan cermin seukuran wajah, memandang sorot mataku sendiri. Aku membaca pesan teks berisi emoticons itu berkali-kali. Sudah berapa banyak waktu berlalu dan betapa pembicaraan dan eksperimen rasa berusaha kita jalani, hingga malam ini aku terus membisikkan pada diriku sendiri, “smile because it happened” instead of thousands of ‘why’ yang mengisi kepalaku selama ini. I believe, still fresh in your mind, bagaimana kita kita gemas dengan pertanyaan: mengapa harus kita? mengapa harus dia? mengapa harus sekarang? kenapa tidak kemarin? 

Kemarin aku bertemu dengan seorang paru baya, selalu menyenangkan ngobrol dengan mereka. Entah ia punya kekuatan menerawang atau itu hanya bahan pembicaraan, ia berkata aku bisa membuat orang lain tersiksa. And he laughed as my hand made ‘yess’ code. And then I suddenly remember, ketika Po membuka gulungan resep yang ternyata tidak berisi apa-apa kecuali lembaran bening yang memantulkan imaji dirinya. Pria itu berbicara tentang harta karun ilmu yang ada dalam diri setiap manusia. A very rare conversation in my circumstance. He even talked about his tattoos :D

Masih kuat baca tulisanku? Maaf, postingan terakhir di blog ini enam bulan lalu. Sekalinya ada bahan, eh membludak hehe. I just can’t let go writing this and because you never ignore any little thing, little feeling yang lebih banyak membuat kita –dalam bahasa bugis- “Mammenynye”. Pak Naing, supir di kantor pernah ditilang setelah menerobos lampu merah. Ia lalai hanya karena asik mengamatiku yang sedang memandang kosong ke depan. Katanya, pandanganku seolah bisa menembus semua kendaraan di depan kami, like I was not there haha.

Dalam perjalanan pulang balik Makassar-Maros, jika tidak lewat tol, mobil pasti melintas di depan replika rumah tongkonan dekat lorong masuk rumah Kak Anti di Sudiang, and you know what happened next, our old conversations there suddenly came rushing. Saat ara tertidur dan kita asik nonton pembukaan Piala Eropa, and every other moments.

Oh iya, Aku melewatkan tahun baru di Bone, no top roof like I enjoyed last year. I chose going home. No party at all. I even went home earlier before all fireworks exploded and painted the sky above this entire hometown, along with the trumpets. Melihat bapak dan mama masih sehat dan raga mereka masih bisa kupeluk, itu tidak tergantikan. Aku sempat membantu Kak Accang foto produk pizza nya, berkenalan dengan ipar baru yang aku minder karena dia sangat cantik, dan suaranya lebih nge-bass dari suaraku. Hmmm…

Today the shine wears off finally, meski di beberapa sudut langit awan tebal masih menggantung. Hari ke 11 di 2013. I didn’t even realize jika digit penunjuk waktu itu telah berganti. Things just stay the same, at least regarding what’s in my room. Beberapa hari lalu saya mengubah posisi peta yang kau beri. Disitu aku menempelkan kartu pos dari Athens dan Melbourne. Seperti saranmu, saya melingkari tempat-tempat yang sangat ingin kukunjungi. Juga ada potongan-potongan tulisan, bukan kalimat ala-ala motivator, tapi hanya sebuah nama yang kutulis berulang-ulang dan sudah hampir menutupi bagian Samudera Pasifik :D

Terus saya baru saja memasang kalender 2013 yang ‘kucuri’ dari majalah di kantor. Melingkarinya tanggal-tanggal tertentu dengan harap-harap cemas: hari ulang tahun orang-orang tercinta, rencana kepulanganmu, kelahiran putra/putri santy dan echy, dan hari pernikahan Rivai yang tinggal menunggu hitungan jam. 

Lengkap sudah penunjuk tempat dan waktu di dindingku. Walau kau tahu, saya bukanlah perencana yang baik. And sometimes I wish I were Power Ranger or Kamen Rider, yang langsung berubah hanya dengan meneriakkan kata “BERUBAH!”, tidak perlu menunggu momen khusus.
Engkau pernah bilang tidak suka dengan hujan, mungkin karena akan menciptakan mixed feeling. Aku selalu senang dengan hujan, everything moves slower. Did you know that, teman-teman di kantor menyebut saya “pemanggil hujan”, karena setiap memandang jendela, I closed my eyes and prayed ‘semoga hujan hari ini’ dan ternyata benar-benar hujan. Kebetulan saja atau sinkronitas? I should learn more from you about this.

May Allah Bless u, kak yus, and beloved ara. 

P.S: Tell me about frozen lake or river near by ;) it will remind me of Joey and Clementine of Eternal Sunshine of the Spotless Mind (see, gak bisa move on dari adegan-adegan nyesek… nasib… nasib…).

Love,

Emma

No comments: