16 June 2008

Leaving My Plug-in Baby

'Saya harus ujian sebelum Ka Syam berangkat', kata Arya di sebuah siang di pasar.

Kalimat ini menjadi latar belakang bagi arya dan tim untuk segara berangkat ke sebuah desa di Barru tempat To Garibo bermukim. Letak desa yang bisa dikatakan jauh dari peradaban, membuat komunikasi tim dengan 'dunia luar' menjadi tidak mungkin. TV saja belum ada (aduh maaf saya lupa nama desanya).

Sabtu, pukul 10.40 waktu Kosmik, ka riza datang berkunjung ke Korps (setara himpunan) menjemput salah seorang anggota tim yang sudah bela-bela mandi pagi-pagi. Perlu perjuangan berat sepertinya bagi yang bersangkutan karena sering bangun kesiangan. Mandi pun memakai perlengkapan milik Ka Yudha. Hehehehe....Yang bersangkutan pun pamit dalam keadaan tergesa-gesa sambil menenteng sepatu converse hitam miliknya.

Keberangkatan arya guna memenuhi kewajibannya menyelesaikan skripsi karya miliknya yang sudah disetujui para dosen pada waktu seminar proposal. Karyanya berupa dokumentasi keseharian masyarakat To Garibo. Menurut Arya populasi To Garibo yang tersisa kini kurang lebih 30 jiwa. Selama dua minggu, tim akan beradaptasi dengan penduduk lokal tanpa proses pengambilan gambar sedikit pun. Baru setelah itu, arya dkk akan melakukan eksekusi gambar.

Sehari sebelumnya, Arya sempat berdiskusi denganku, menanyakan kesediaan ka harwan untuk turut serta menjadi anggota tim. Senyum-senyum 'licik' khas Arya (jangan marah arya, becanda ji) disertai bahasa ekspresi wajah yang penuh intrik, mencoba meyakinkanku agar mengizinkan ka harwan bersamanya selama di lokasi. Ketua angkatan 2004 ini menduga kalo aku tidak akan memberi lampu hijau. Namun hasrat 'etnografi' ka harwan yang begitu menggebu-gebu, aku telah mengizinkannya jauh sebelum rencana keberangkatan mereka, dengan resiko tidak ada kontak sama sekali, mengingat lokasi yang sulit dijangkau.

Sudah dua hari berlalu, Ka harwan tidak tahu kalau kini pondokannya telah beralih tangan kepada orang lain. Kemungkinan besar harga sewa ikut naik seiring harga barang-barang yang kian meroket (hiperbola). Aku memperoleh kabar itu dari ka asri dan nanang ketika aku melintas di depan pondokan mereka. Sebagai langkah preventif, dalam waktu dekat mereka bertiga seharusnya akan berjuang keliling tamalanrea untuk mencari rumah kontrakan yang memenuhi syarat kualifikasi mereka (murah, strategis, tidak banjir, dan tidak makan ongkos jika ingin ke mana-mana). Bagi mereka (pemberi kontrak) yang memenuhi syarat, silahkan isi shoutbox sebelah...

Rencanya, ka riza akan pulang hari ini (senin, 16 jun 08) meninggalkan anggota lain yang sedang berjuang hidup di luar kelaziman, yang berjuang membebaskan diri dari manjanya dunia sehari-hari yang telah melumpuhkan semangat survival, bertarung melawan keinginan-keinginan semu buatan dunia modern, meninggalkan kekasih-kekasih palsu produk simulasi yang kering makna. Aku menunggu kabar dari ka riza, penasaran dengan usaha-usaha mereka melonggarkan kabel-kabel elektronik yang senantiasa melilit dan menemaniku selama ini.

Now it's time for changing
and cleansing everything
to forget your love
My plug in baby....crucifies my enemies...when i'm tired of living...
(MUSE)

No comments: