13 March 2011

Menemukan sosok yang hilang

Waktu itu saya tengah sibuk-sibuknya mempersiapkan ujian caturwulan II di kelas 2 SMA, saat seorang perempuan berambut pirang lurus, celana baggy, kaos oblong, dasi panjang, eyeliner tebal, dan skateboard ke mana-mana, tidak henti-hentinya hadir di kotak kaca bernama televisi. Dialah Avril Lavigne, dunia mengenalnya karena berani melawan arus, saat perempuan seusianya ber-belly dancing ala Britney atau Aguilera, Avril datang dengan tingkah rebelnya dan sontak menjadi idola di kalangan anak muda saat itu, tidak ketinggalan saya dan beberapa teman kelas.

Album pertamanya Let Go, saya hapal di luar kepala. Saya masih ingat, hari itu kasetnya (iya, pita kaset) saya pinjam dari ketua kelas, Anca, waktu itu sedang Ramadhan, saya mendengarnya tiap pagi, setelah pulang dari jalan-jalan subuh (ada kebiasaan setelah subuhan, jemaah mesjid terhambur ke luar mesjid menikmati udara pagi, pak ustadznya yang lagi ceramah ditinggal begitu saja, ckckck)

Let Go adalah salah satu album terbaik yang pernah saya dengar. Liriknya tipikal remaja yang sedang berjuang mencari jati diri katanya. Untuk seorang Avril yang menulis lirik-lirik di dalamnya pada saat ia berusia 16 tahun, bisa dikatan dewasa melampaui umurnya. Saya tidak bisa berhenti mendengarkan Tomorrow dan Things I'll never say-nya.

Di tahun-tahun berikutnya Avril merilis dua album lagi, saya tidak menemukan gairah yang bisa menandingi rasa suka pada Let Go. Under My Skin dan Best Damn Thing tidak terlalu membekas di telinga saya.

Hingga tanggal 8 maret kemarin, sahabat saya Iqko mengabarkan jika perempuan Kanada ini merilis album barunya. Ia sudah mewanti-wanti kalau nuansa Let Go akan terasa begitu kental. Saya terlalu 'sibuk' waktu itu hingga tidak sempat mendowload satu album. Barulah tadi malam, Ka Harwan mentransfer file-nya ke laptopku.


Sahabatku itu benar, saya merasa kembali ke jaman 9 tahun lalu, sound gitar akustik di mana-mana, musik yang sederhana namun memanjakan telinga, tanpa lengkingan suara yang memang tidak perlu, minim distorsi, dan tentunya yang paling utama, lirik yang tidak lagi centil seperti di dua album sebelumnya. Tadi sore, saya tertidur di kamar, laptop saya biarkan menyala memutar lagu-lagu di album Goodbye Lullaby ini. Ketika terbangun, perasaan begitu tenang kala sayup-sayup saya bisa mendengar lagu-lagu itu. Yeah, you made it Av, welcome back...!!!

2 comments:

Rahma Nasir said...

setuju kak! saya juga menemukan avril yang dulu (album Let Go) di album Goodbye Lullaby ini. so happy

bedewe, salam kenal :)

Emma said...

hei rahma...

salam kenal juga ^^
saya suka lagu2 avril
sayang saya nda bisa nonton dia di Jakarta bulan Mei ini :(