6 March 2011

Buat Meike

Ia berhenti dan tersenyum

"...teman masa kecilmu," katanya, sambil mengerdipkan matanya. "Yesus berkata, 'Biarlah yang mati menguburkan yang mati' karena Ia tahu bahwa kematian itu tidak ada. Kehidupan telah ada sebelum kita terlahir dan akan terus ada setelah kita meninggalkan dunia."

Mataku bergenang air mata.

"Sama saja dengan cinta," ia melanjutkan. "Cinta telah ada dari semula dan akan terus ada selamanya."

"Kau seakan mengetahui semua tentang kehidupanku," kataku.


"Semua kisah cinta mirip. Aku juga melalui hal yang sama suatu ketika. Tapi bukan itu yang kukenang. Yang kukenang adalah cinta akan kembali dalam wujud pria yang lain, harapan-harapan baru, mimpi-mimpi baru."


Ia memberikan pena dan kertas padaku.
"Tulislah semua yang kau rasakan. Keluarkan dari jiwamu, goreskan pada kertas, lalu buanglah kertas itu. Ada legenda bahwa Sungai Piedra begitu dingin sehingga apa pun yang terjatuh ke dalamnya -dedaunan, serangga, bulu burung- berubah menjadi batu. Mungkin akan baik bagimu untuk melemparkan semua deritamu ke dalam arus sungai."

Aku meraih lembaran kertas itu. Ia mencium pipiku, berkata aku bisa kembali makan siang kalau mau.


"Jangan lupa!" ia berseru seraya melangkah meninggalkanku. "Cinta akan tetap sama. Hanya lelaki yang berubah".


Aku tersenyum, ia melambaikan tangan.


Tulisan ini saya petik dari novel Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Tersedu karya Paulo Coelho, halaman 202-203, penerbit Alvabet. Semoga bisa memetik hikmah, Meike... Everything is not lost...

2 comments:

Dwi Ananta said...

Ayo Meike... SEMANGAT '\(^O^)/'
Karena sesungguhnya tiap manusia diciptakan berpasang-pasangan :)

Meike Lusye Karolus said...

kak emma : saya tidak akan berhenti berharap kak....selalu akan ada pria yang lebih baik. dan entah bagaimana caranya saya akan bertemu dengannya. pasangan jiwa saya pada waktu yang ditentukannya...makasih kak...terharukuuuu...T.T

kak dwi : makasih kak...terima kasih telah menjadi kakak saya akhir-akhir ini..^^