Showing posts with label cerita rush. Show all posts
Showing posts with label cerita rush. Show all posts

1 November 2010

Nida, Sang Penghidup Hati

Buat seorang pesimis seperti aku, bertemu dengan sosok Nida adalah sebuah berkah. Sejak pertama kali bertemu dengannya, aku tahu dia akan menjadi sosok yang menonjol di kalangan angkatan 2004. Karena itu kata-katanya selalu kami dengarkan. Dia seorang penggerak yang baik.
waktu yudisium, Nida kedua dari kanan

Itu hanya sedikit dari cerita tentang Nida. Kami memanggilnya Bunda karena dia serba bisa: masak, menjahit, atur-atur barang (??), seorang pendengar yang baik, teman gila-gilaan yang bisa diandalkan. Bagiku pribadi, Nida adalah seorang yang mampu membangkitkan semangat untuk melakukan hal-hal terbaik yang bisa kami lakukan. Tidak ada satupun kata-katanya yang pernah menghancurkan mimpi-mimpiku. Ibarat air, Nida telaten dalam mengolah semangat kami agar tidak mudah menyerah.

Oleh karena itu, saya selalu bahagia tiap kali bertemu dengannya. Selalu saja ada inspirasi dan kekuatan baru setelah berdiskusi. Kecerdasan dan penguasaannya terhadap suatu topik tidak usah dipertanyakan. Ya, pengetahuannya melampaui umurnya. Ah, Jika saja aku bisa menjadi seperti dirinya, optimis, cerdas, percaya diri, dan lebih suka mencari jalan keluar, tidak seperti aku yang lebih suka mencari jalan buntu sebuah masalah.

Satu hal lagi yang paling membekas tentang ibunda gaul ini: she's a Christiano Ronaldo die hard fan. Saya ingat ketika rombongan Manchester United rencana bertandang ke Indonesia pertengahan 2009, Nida sudah meneguhkan tekad untuk hadir di Istora Senayan, bertemu dengan sang pangeran platonis. Tapi sayang sekali itu tidak terjadi, Ronaldo keburu pindah ke Real Madrid. Hmm...

the wedding

Nida, Nida, Nida... Perempuan luar biasa yang selalu berhasil menghidupkan hatiku dari kematian harapan-harapan. I could never found somebody like you. Semoga Allah senantiasa menghidupkan hatimu, menjaga mimpi-mimpimu seperti yang telah kau lakukan, tidak hanya padaku tapi pada semua sahabat-sahabatmu... Semoga Allah memberimu kekuatan untuk melakukan lebih banyak kebaikan di dunia ini..

Lov you Nida, this writing is purely intended to let you know how much you mean to me, to us. Happy bestest day *hugs and kisses

14 October 2010

Temanku, Si Beruang Madu

Begitu mudah untuk akrab dengan satu orang ini. Dia bisa diajak bercerita tentang apapun. Tidak usah ditanya seberapa fasihnya dalam soal musik mancanegara, he is a freak. Ia pernah ‘membentak’ waktu memutar mp3 di rumah seorang teman ketika kami yang masih angkatan baru di kosmik melakukan persiapan acara persembahan di bina akrab. Dia bilang selera musikku aneh, karena waktu itu saya putar lagunya Bon Jovi, hahaha...

tampak samping (ampunka seniooorr!)

Ukuran tubuhnya memang agak jumbo, that makes him very easy to recognize. Ia adalah orang dengan mood yang tidak bisa ditebak. Kadang sangat antusias dan kadang bĂȘte minta ampun, dan lagi lagi akupernah menjadi korban sifat moody nya itu. Pernah suatu hari di kampus, masih maba, di koridor, aku datang mengeluh padanya, tapi yang aku dapat ‘bentakan’ lagi, aduh aduh… mungkin karena waktu itu aku belum terlalu mengenalnya.

Ia sering mengaku kalau ia adalah tipe individualis, lebih senang melakukan segala sesuatu sendiri. Hmm…sarcastic aye? Sebab itu ia tidak pernah menyusahkan teman-temannya. Satu hal lagi ia suka tertawa dengan keras (saingan 1-2 dengan dwi). Ya, selain karena ukuran tubuhnya, ia begitu mudah dikenali dari jauh karena tawa kerasnya yang seperti berirama.

tampak belakang (agak-agak suram)

Oh iya, Iqko adalah mantan penyiar radio di Makassar, he is (or was?) a radio star. Seingatku ia mulai menyiar ketika lulus SMA, di sebuah stasiun radio yang selalu ia banggakan. Ia suka memutar lagu untuk kami anak-anak RUSH kapan pun ia sempat. Dan aku yakin, ia pasti juga memutar sebuah lagu untukku ketika aku berulang tahun, iya kan Iqko? ^^

Iqko-lah yang mengorganisir teman-teman angkatan kami untuk memberi ucapan selamat ulang tahun di sebuah buku mini yang ia buat sendiri, plus sekeping compact disc berisi lagu-lagu favoritku. Itu adalah kado ulang tahun terindah yang pernah kuterima (juga kado mukena dari sahabat terbaikku, Madi). Saya masih menyimpannya sampai sekarang, meski di beberapa bagian tulisannya mulai kusam dan luntur. Semoga bukan persahabatan kita yang luntur, teman.

tampak depan (akhirnya...)

Aku yakin dengan hal itu, dia adalah sebaik-baik teman. Ia akan selalu ada setiap kali seorang teman membutuhkannya. Ia adalah ‘tong’ sampah yang berisi masalah-masalah dan uneg-unegku. Ia sangat setia kawan: temanku adalah temannya, dan musuhku adalah musuhnya juga. Ia tidak pernah menegaskan itu, tapi aku bisa melihatnya dari sikapnya selama ini. Aku rasa itu sudah cukup menggambarkan keutamaan seorang Iqko.

Hari ini ia berulang tahun. Yang aku sesalkan, sampai hari ini aku belum bisa memberinya kado, apalagi yang bisa sebagus kado pemberiannya dulu. Beberapa hari yang lalu aku menulis di wall-nya: aku merasa terlupakan, hiks hiks…”. Sebenarnya aku bercanda, aku tahu ia sangat sibuk. Tapi meskipun sibuk ia pasti masih akan selalu menyempatkan diri untuk mentraktir kami atau sekedar kongkow-kongkow tidak jelas, hehehe..iya kan Iqko?

tampak seluruh badan (betul kan kata saya? hehehe)

Selamat hari jadi, sobat. Semoga terberkati hari-harimu ke depan. Hanya Allah yang akan membalas kebaikanmu selama ini. Semoga panjang umur hingga kita bisa bertemu lagi di tahun-tahun depan supaya aku bisa memberimu kado ^^.

6 September 2009

Angkatan tanpa Foto Angkatan

Kunci serep angkatan itu kini berada di tangan siapa, tiada yang tahu. Dari 52 persona, kurang lebih dua pertiganya telah menyelesaikan studi sejak satu tahun kemarin. Bukan sepertiga sisanya yang akan saya permasalahkan atau menujukan protes. Yang saya pertanyakan adalah, dari lima tahun masa bersama, mengapa tidak ada satu pun foto angkatan yang utuh tidak bolong-bolong?

Tanya ini sudah ke mana-mana mencari jawaban. Sebenarnya sudah tidak mungkin berfoto angkatan. Kepingan formasinya luruh satu per satu oleh waktu. Foto angkatan hanya menjadi mimpi yang tidak akan pernah terwujud hari ini (saya selalu berharap besok-besok bisa terealisasi, Amin).

Tanya ini terucap olehku, dalam hati, di rumah Wuri kala teman-teman merangkai pertemuan lagi. Sahur bareng teman-teman RUSH 04. Jujur, selama Ramadhan dalam hidupku, aku hanya mengenal yang namanya buka puasa bareng. Merencanakan sahur bareng dengan mendatangkan teman angkatan adalah sebuah ide brilian, inovatif, dan mencengangkan.

Perlu waktu satu minggu memberi kabar lewat dunia maya dan dunia sms. Panitia berusaha keras meyakinkan RUSHER yang masih bermukim di Makassar agar datang berkumpul, berbagi cerita, berbagi lowongan kerja, dan menjadi telinga bagi keluhan-keluhan mereka yang telah dihimpit oleh dunia kerja. Inilah yang menjadi pertimbangan penetapan jadwal, yakni Sabtu malam hingga Minggu pagi, meski pada akhirnya Wiwie, the most awaited one, ternyata tidak bisa datang.

Bahagia melihat semangat Iqko (yang notabene baru saja habis kecelakaan dan Wuri (yang dikenal ahli mengorganisir acara), Dwi dan Darma menyempatkan waktu berbagi bantal, pasangan Fufu dan Echy, Fafa, Keda, Uccang, Were, Icha, Ketua angkatan Arya, dua penjahat angkatan, Edy dan Taro, pegawai baru Patrick, Nunu si balala, semuanya datang...

Tidak ada yang boleh terlelap, itu peraturan yang boleh dilanggar. Dwi tak kuasa menahan beratnya kelopak mata. Setelah ditahan-tahan, ia menghambur juga ke kamar tidur, diikuti oleh Icha. Were masuk angin, Keda tak kunjung berhasil memasukkan voucher ke nomor hapeku, Patrick tiada henti bercerita soal tempat kerja barunya, Iqko menggendong tangannya ke mana-mana, blitz kamera Uccang serasa tak berjeda, Taro dan Edy menonton pertandingan membosankan Georgia-Italia, duet Fafa-Fufu membincangkan sedikit seputar hukum-hukum puasa dan shalat, dan ada Echy yang diospek ulang karena tidak pamit waktu berangkat ke Jakarta.

Sekitar jam 3 dini hari (Jam di dinding terlambat lima belas menit), Wuri dan aku menyiapkan makanan sahur. Beberapa potong ayam dan ikan goreng sambal serta tiga iris tempe goreng sisa buka semalam kuhangatkan. Sup yang dibawa Iqko sangat menggugah selera dan akhirnya jadi menu terbaik. Wuri merebus air buat bikin teh untuk 15 orang. Saatnya membangunkan darma, dwi, dan icha.

Habis sahur dan kenyang foto-foto, semua bingung menentukan, tidur atau menunggu pagi datang. Aku dan Dwi memutuskan nebeng di mobil Arya, Patrick dan Nunu ciao sebelum subuh, Taro dan Edy balik setelah subuh. Sisanya terkapar membayar tidur di ruang tamu yang telah disulap menjadi bidang datar berkarpet.

Makassar masih hening dan dingin kala kendaraan yang kutumpangi menjauh dari Toddopuli. Bocah-bocah lelaki serta perempuan-perempuan cilik bermukena kutemui hampir di tiap pinggir jalan-jalan kecil.

Hmm...di manakah foto angkatan itu?


28 August 2009

Sebelum Alba Pergi...

"Ya, saya persilakan teman-teman yang ingin memberikan testimoni..."
"Mmm...apa yang paling berkesan tentang Alba, mmm..."





Matahari sedang kalem-kalemnya memamerkan perona jingga di wajahnya, saat saya dan teman-teman
ngabuburit di salah satu titik di jalan Pengayoman. Butuh perjuangan dan kesabaran ekstra untuk bisa tiba di sana. Saya juga sih yang tidak mempertimbangkan jam macet di sepanjang jalan protokol di kota ini.

Dua hari yang lalu, sebuah pesan masuk ke inbox email saya, seorang teman berniat pamit pulang ke Ternate. Wah, refleks jempol saya memencet nomor Iqko buat merencanakan sebuah farewell party kecil-kecilan. Lokasi dan waktu deal, bikin templet lalu saya kirim massal ke 28 nomor teman angkatan 04, yang diduga masih beromisili di Makassar.

Kaki saya tidak henti bergoyang tatkala angkot IKIP yang saya tumpangi tidak kunjung melaju. Sementara tangan saya bergetar oleh sms Ka Ilo mengirim kabar teman-teman sudah pada ngumpul di TKP. "Em, teman-temanmu sudah datang, terambat kowww..!" Ah, kota Makassar ini makin padat dan makin gerah saja, saat supir beberapa kali harus menginjak rem saking macetnya.

"Dua tahun ke depan, kira-kira tampilan kita seperti apa ya?"
(Untuk direnungkan..)

Langit sore tersapu malam, penantian saya dan Iqko berakhir. Dari 28 orang calon undangan, tercatat hanya 10 orang yang bisa hadir. Fahri, Keda, Yusran, Iqko, Wuri, Icha, Patrick, dan Alba sendiri. Wiwie (yang selalu ingin kami boikot) dan Foe hadir belakangan, saat kami sedang dalam sesi foto terakhir menjelang bubaran. Namun karena Wiwie memelas dan yang utama karena dia adalah makhluk paling manis di angkatan, kami memutuskan untuk tinggal sejenak barang 60 menit.

"Yang paling saya ingat dari Alba,... saat dia kedapatan nda ikut pra-ospek, padahal dia yang jadi ketua kelas waktu itu, kedapatan lagi di mal, hahahaha...," ungkap Patrick tidak kuasa menahan tawa, menyegarkan ingatan kami lima tahun lalu saat pertama kali bertemu dengan Alba.

"Saya tidak bisa bilang banyak, yang paling kukenang, adalah ketika kami hampir membuat Alba terusir dari kosannya, muahahahah...,"testi Iqko sambil meninjukan tangan ke udara diikuti derai tawa yang lain. Kali ini kami kembali berada di awal tahun 2007, di mana saat itu teman-teman membuat "heboh" suatu hari di rumah kost Alba. Mengingat vokal teman-teman angkatan berdesibel tinggi alias bising dan gaduh, sang pemilik kost keesokan harinya menempel pengumuman daftar larangan, dan semuanya ternyata merujuk pada ulah teman-teman saat itu.

"Alba, saya masih simpan pemberianmu...," sebenarnya kalimat ini sangat standar, namun karena berasal dari Wiwie dan diungkapkan penuh perasaan, kegaduhan tak terhindarkan, bahkan Alba sampai berpikir ulang untuk tinggal di Makassar saja, haaaa...haaa....haaa...

Satu persatu melontarkan perpisahan buat Alba. Tak dapat kubaca tanda di wajahnya. Namun yang pasti ia hanya bisa menjadi pendengar setia saat kami ribut merencakan sahur bareng di rumah Wuri, satu minggu setelah keberangkatannya ke Ternate.

Tidak henti-henti blitz kamera menghantam wajah kami. Beberapa potong kenangan buat Alba, hanya itu yang bisa kami berikan untuknya. Asa kami hanyalah agar ada saat dalam kehidupanmu kelak untuk menginjakkan kaki sejenak pada tanah yang pernah kita pijaki bersama dan pada rumah kosmik yang pernah kita singgahi bersama.


Finger crossed...