14 April 2015

Must admit that the past two weeks I spent watching How I Met Your Mother series. Yeah, semacam telat banget karena serial ini sebenarnya sudah tamat tepat setahun lalu. Saat itu nontonnya cuma sepotong-sepotong, di rumah Were kalo kebetulan saya nginap di sana. Pertama kali nonton langsung jatuh cintanya sama karakter Robin Scherbatsky (yes, yg quote nya jadi header blog ini). Cantiknya itu lho, semacam dewi-dewi Yunani yang turun ke bumi. Tahun lalu, saya ingat, tepat hari Paskah juga, saya dan Eby nonton maraton di Star Movie special Easter Day.

Barulah awal bulan ini, saya meniatkan menonton dari season pertama sampai terakhir. Sayangnya, tempat langganan dvd belum punya season satu, jadi saya lompat ke season 7, 6, 5. Hahahah. Pilihan tepat karena menurut saya, di sanalah puncak semua konflik (jka bisa dikatakan demikian, karena saya merasa gang itu lebih fun dengan masalah-masalah mereka). Season 2,3,4 juga sudah selesai (Gee, selamat datang insomnia).

Dan belum pernah saya selalu ingin cepat pulang dari kantor menyelesaikan episode demi episode. Pulang dari Palopo kemarin saya bela-bela balik ke kantor dulu ambil laptop biar bs nonton hahahhah.

What makes me love them? Plot penuh kejutan, ya. Karakter kuat, ya. Dialog jauh dari preaching, ya. Konflik tidak cheesy, ya. Sisi terbodoh yang bisa dilakukan seseorang demi meraih apa yang diinginkan, ya. Robin, ya. Ted Mosby? Ya ya. Changed my life? No better answer than: 100 percent.

Why Robin? Karena doski finally bisa move on *waduh
Why Ted? Karena doski tidak bisa bedakan fisik dan emosionalnya, sometimes makes him look so stupid... just like Emma, which is me by the way *lari ke pojokan
Over all, dari semua karakter, sebenarnya yang paling kuat adalah Barney. Saya jamin tanpa karakter womanizer dan dramatisasinya itu, serial ini akan biasa-biasa saja.

Well, itu saja dulu yang bisa saya share saat ini. Masih ada tiga season (1,8,9). Ini nontonnya harus pelan-pelan. I mean, what am I gonna do with my life kalo sudah nonton season finale nya huaaaa *ala2 Barney*

See you soon,
Emma

6 April 2015


Thank you... thank you...

13 March 2015

Iqko,

Apa kabarmu? Saya menulis ini saat sedang break Shalat Jumat. Semuanya keluar kecuali saya. You know, insecure issue :D I'm listening to Showbiz and Sunburnt from Muse's very first record. Those early days, waktu pertama pertama dengar dan jatuh cinta sama Matt Bellamy sampai hari ini. Yes, #Psycho sudah rilis tadi malam, nda sampai ronda timeline Twitter. Tapi pagi pas di pete-pete baru sempat dengar.

Mmm... Klo dari riff nya sebenarnya itu bahan mentah dari tahun 1999. So it was quite familiar. Im just happy they're back. Some kind of, like the new air, you got reason to live again hahahha. Pity me, jadwal tur Eropa mereka padat tahun ini. Semoga singgah di Stockholm ya. Supposed to be there but, mungkin pada waktu yang lain.

By the way, I'm alright. Bagian low point nya sudah lewat. Mom called and she has been the strongest pillar in my life. I will keep seeking. Another road maybe, that every road will meet in the end. Dwi beberapa hari lalu DM loker yang sangat tempting :D worth a try, to see how far we can push the limit.

Happy Spring dear!
Love always,


Emma

7 February 2015


When I'm without you,
So insecure...
You're the one thing
One thing I'm living for

(Sugar - Maroon 5)

6 February 2015

Dwi,

Kau masih ingat dengan kotak pribadimu? Masih kau simpan? Saya juga punya, tapi belum beli kotak yang benar-benar bisa menampung semua. Mungkin karena terlalu banyak. See someday mungkin kotak itu akan menjadi kotak ajaib. Takes you to long long period ago. Makes you smile that you are now stronger and how drama we were. Entah, kini kita melihat diri yang dulu sebagai orang yang drama, tapi diri dulu kita itu melihatnya sebagai sebuah realitas dan menghadapinya dnegan cara-cara yang kita pilih.

Tadi pagi tidak sengaja membongkar salah satu bagian. Nemu tempat minum plastik yang biasa dipakai di kios-kios kopi. It has my history, once, two years ago. Just realized that I still keep it. And for minds like us, everything suddenly replayed itself. Di mana, kapan, dan the only thing that matters, dengan siapa hahahahahah.

Mungkin kelak jika Allah memberi saya kesempatan berada di tempat lain, saya akan membawa kotak ajaib itu. Just like Wilson to Chuck Noland in Cast Away, maybe that's how the things for me, for us.


Miss you so much,


Emma

5 February 2015

Meike,

Tulisanmu menginspirasiku untuk menulis ini. I'm trying to remember everything concern to this.

Seperti yang saya sampaikan di LINE, saya akan mengulang kembali sabda Nabi Isa:
"Seperti tumbuhan, hikmah itu hanya akan tumbuh pada hati yang lembut, bukan pada hati yang tinggi seperti lereng."

Lereng hanya ditumbuhi lumut, Mei.

Kamu pasti pernah nonton Devil Wears Prada. Saya flashback dulu, ingat-ingat film nya. Tentang Andrea yang melamar menjadi asisten Miranda Presley. Padahal dalam hatinya ia ingin menjadi jurnalis. Dua dunia yang sungguh beda.

Ada masa di mana suasana kantor itu seperti di kantor Andrea. Saya mengalaminya beberapa hari ini. Pada bagian mana samanya? Pada bagian Andrea merasa kehilangan/jauh dari orang-orang yang ia kasihi, secara tidak langsung karena pekerjaan "menuntut" seperti itu. I think I've become meaner than ever. And I hate that. I messed up.

Pernah suatu hari saya berselisih paham dengan teman. Salah paham itu bisa terjadi karena tidak bisa semua kita lihat sendiri. Hidup antara satu orang dengan yang lain hanya beririsan, bukan sepenuhnya, bukan satu dalam yang lain dan sebagainya. Sedekat apapun, tetap ada namanya ruang pribadi bernama privasi dan tidak ada satupun yang berhak masuk ke dalamnya.

I feel I'm getting meaner by keeping that distances. Entah mungkin cuma perasaanku tapi lingkaran insecure membesar lagi :D but that's okay. "It's just a moment, this time will pass," Bono said.

Kembali ke soal ilmu/hikmah tadi. Ilmu dan hikmah itu beda. Dalam pemahaman saya, ilmu murni ilmu, yang kita pelajari, yang kita dapatkan. Sementara hikmah adalah kebijaksanaan dengan ilmu itu. Setiap orang bisa belajar, tapi tidak semua orang bisa bijak dengannya.

Segala sesuatu ada hijabnya (penghalang) antara diri kita dengan Yang Maha Kuasa, yang menjauhkan kita denganNya. Hijabnya ilmu, kesombongan itu sendiri. You know where I get this? Dari seorang tukang pijat, seorang teman menceritakan ulang padaku. Penghalang ini selalu ada, no matter how hard we try, kepingan itu akan selalu ada, selama kita hidup.

What are we then... Ilmu yang kita dapatkan itu baru permukaan, tidak cukup setetes dari laut yang sangat luas. Itupun karena izinNya kita bisa mengerti. Just dont stop untuk mencari, karena sayap malaikat akan menaungi orang-orang yang mencari ilmu, kata keluarga Nabi.

Love always,


Emma

 

28 January 2015

Iqko,

Kemarin saya dan dua orang teman panitia ultah kantor berkunjung ke I Radio. Buat promosi event. Did you know that, salah satu keinginan dari SMP yang belum coba saya wujudkan hari ini adalah menjadi seorang penyiar radio. Sempat wonder juga kenapa ya pas kuliah kemarin saya nda coba magang di salah satu radio. Ya mungkin karena insecure issue itu hahahha.

Jadi sepanjang on air, saya 'memilih' bagian dokumentasi, rikues lagu Jingga - Tentang Aku yang pasti bikin mas Benny dan mba Riska mikir saya dari angkatan berapaaa gitu :D utak-atik action figure Darth Vader dan Star Wars thing lainnya yang available di meja.

Being in the studio (a place which I believe your home from home) made me feel relieve. Less pressure, doing things I love the most (listening to my favorite songs), though it was just last for two hours.

Dua malam lalu bertemu adikku. Pembicaraan yang serupa dengan kemarin-kemarin. I did the listening part and only speak when he asked me to. Sometimes I am a sister to him, in the other time I'm a parent. He read a lot, wiser than the first time he moved here to study. And what I can share from his saying that night: Never be afraid of poverty and fear itself, that's evil trick to bring you down and hopeless.

We shan't be fear aye?

Love always,
Emma