"Janganlah sebuah kesalahan menghilangkan kasih sayang di antara kalian..."
Salam alaika ya Rasulullah..
Potongan sabda ini tertulis di halaman pertama catatan kuliah semester tiga. Masih saya simpan sebagai kenang-kenangan atas masa yang menandainya. Mungkin karena hampir serupa, ingatan tiba-tiba membawa saya kepada pesan ini....
Untuk ketiga kalinya saya membeli buku Haidar Bagir "Islam, Risalah Cinta dan Kebahagiaan". Duanya saya hadiahkan untuk teman, sementara satunya lagi saya beli beberapa hari jelang Idul Fitri, saya niatkan untuk kakakku. Saya sendiri baru sebatas skimming read, baca lintas lalu dan saya rasa sudah cukup sebelum saya berikan. Namun saat sedang kepak barang untuk mudik, saya membuka-buka lagi dan akhirnya memutuskan tidak membawanya ke Bone. Saya lebih membutuhkannya setelah semua yang terjadi dua bulan terakhir. I need some strength...
Dan kata cinta selalu cukup, meski rindu selalu melemahkan dan terkadang melahirkan ego yang melawan cinta itu sendiri.
13 August 2013
9 July 2013
Bertemu Budi Darma
Makassar, 25 November 2012
Untuk pertama kalinya saya komplain dengan cuaca hari ini yang tidak menentu. Mendung di timur, terang benderang di barat. Hujan rintik sebentar, lalu hujan besar, lalu turun level jadi gerimis. Masalahnya adalah saya membawa paper bag untuk salah seorang penulis favorit yang akan kutemui hari ini. Untung saja saya membawa payung jadi resiko basah-basahan bisa dikurangi.
“Olenka adalah hasil pengamatan saya dengan
kehidupan orang-orang di Bloomington, ada istri yang berselingkuh, anak
dengan keterbelakangan mental, orang-orang individualis. Khusus untuk
Fanton Drummond saya memasukkan beberapa karakteristik ke dalam tokoh
itu.”
Untuk pertama kalinya saya komplain dengan cuaca hari ini yang tidak menentu. Mendung di timur, terang benderang di barat. Hujan rintik sebentar, lalu hujan besar, lalu turun level jadi gerimis. Masalahnya adalah saya membawa paper bag untuk salah seorang penulis favorit yang akan kutemui hari ini. Untung saja saya membawa payung jadi resiko basah-basahan bisa dikurangi.
Kabar mengenai kedatangan Budi Darma saya peroleh
dua hari lalu dari junior saya: Riana, Meike, dan Nita. Ada semacam
gathering penulis Indonesia, Budi Darma salah satu peserta yang turut
hadir. Hati saya rasanya mengembang sampai ke sudut-sudut. Huaaaa… saya
harus bertemu dengannya. Saya langsung mengontak Nita yang kini ternyata
telah bekerja sebagai wartawan di salah satu media lokal dan bertugas
meliput kegiatan ini. Kami berjanji bertemu di Hotel Aston, tempat di
mana para penulis berkumpul sebelum menuju Fort Rotterdam.
Budi Darma adalah penulis novel Olenka,
satu-satunya novel bahasa Indonesia yang kubaca hingga berkali-kali.
Seperti menengguk obat dan berharap manjur menghilangkan sakit, seperti
itulah Olenka bagiku. Novel Olenka adalah salah satu pain killer ampuh.
Menyadari bahwa ada sebagian diriku yang hidup dalam karakter Olenka,
Fanton Drummond, dan Wayne Danton.
Lobi hotel ramai saat aku tiba. Rasanya sudah tidak
konsen saat menitipkan payungku yang basah. Pandanganku menyapu isi
lobi dan akhirnya menemukan Nita sudah bersamanya. Sosoknya tiada
memperlihatkan kerentaan di usianya yang sudah menginjak 75 tahun. Ia
berjalan sendiri, langkahnya mantap saat menenteng travel bag, tanpa
tongkat. Sebagian rambutnya telah memutih.
Begitu mendapatkan kesempatan, saya lalu mengobrol
dengannya sambil mengeluarkan novel Olenka milikku. Saya seperti
melakukan verifikasi, mempertemukan apa yang saya baca langsung dengan
pengarangnya. Wah saya sampai gemetar. Bertemu langsung dengan
‘pencipta’ Olenka. Yang saya baca kalau sedang sedih, yang kisahnya
telah menemani dan membantu saya melewati masa-masa sulit selama ini.
Ia lalu menceritakan bagaimana inspirasi menulis
Olenka, seperti yang ia ceritakan di bagian akhir buku. Bahwa saat itu
ramalan cuaca mengatakan akan ada badai salju, jadi Budi Darma dan
beberapa temannya diminta untuk kembali ke apartemen. Saat lift akan
menutup, seorang perempuan menahan lift. Mereka berbincang sejenak
tentang tiga anak kecil yang juga ada di dalam lift. Kejadian itu
ternyata menjadi pemantik bagi Budi Darma untuk menulis Olenka hingga
rampung hanya dalam waktu tiga minggu.
“Sebenarnya ide dan material tulisan saya sudah
ada, nah momen di lift itu adalah pemantik, keluar satu demi satu sampai
jadi satu novel.”
Saya lalu memperlihatkan foto profilnya di sampul belakang, ia hanya merespon “Oh ini buku udah lama banget.”
Budi Darma lalu menceritakan potongan-potongan
koran yang ada dalam novel (itu adalah idenya untuk memasukkan beberapa
guntingan koran sebagai ilustrasi). Dengan antusias, ia bercerita
tentang street preacher, pendeta jalanan yang ‘berdakwah’ di jalan-jalan
Bloomington, café yang menjadi setting tempat bekerja Olenka, tentang
balon udara yang melintas di Indianapolis, tentang film Breaking Away
yang dibuat pada saat ia masih kuliah di Indiana University, dan tentang
pemandangan di belakang apartemen tempat tinggalnya.
“Memang ada orang yang bisa meramalkan masa depan
orang tapi tidak bisa meramalkan dirinya sendiri. Ada yang bisa
mengamati orang dengan cermat tapi tidak bisa mengamati dirinya
sendiri,” kata Budi Darma saat aku memperlihatkan ilustrasi belakang
apartemen itu. Aku bisa merasakan bagaimana ia kemudian mengingat
lagi Bloomington yang telah ditinggalkannya puluhan tahun lalu. Pasti
menyenangkan bisa menceritakan lagi apa yang sudah berlalu.
Kekuatan dari Olenka adalah perenungan Fanton
Drummond akan apa-apa yang telah ia lakukan. Seperti Budi Darma katakan
di awal buku: Karya sastra yang baik adalah yang kaya berkelebatnya sekian banyak pikiran. Kita bisa membaca, Fanton tidak berdaya dengan perenungannya sendiri, keentahan yang tiada akhir, dan kepasrahan. Budi darma menyematkan kalimat Chairil Anwar, Hidup adalah menunda kekalahan. Tidak ada sosok hero di dalam kisah Olenka, yang ada hanya orang-orang malang.
“Olenka adalah hasil pengamatan saya dengan
kehidupan orang-orang di Bloomington, ada istri yang berselingkuh, anak
dengan keterbelakangan mental, orang-orang individualis. Khusus untuk
Fanton Drummond saya memasukkan beberapa karakteristik ke dalam tokoh
itu.”
Pertemuan kami harus berakhir saat bus yang akan
mengantar rombongan ke Fort Rotterdam sudah tiba. Rasanya masih ingin
ngobrol lebih lama. Saya lalu meminta beliau menandatangani buku dan
berfoto bersama. Tidak lupa saya menyerahkan paper bag yang sudah saya
siapkan sejak kemarin untuknya :))
3 July 2013
1 July 2013
You may not know me... But ever since your brother 'introduced' you in one of our conversations, I feel so much close. Like I've known you for long. Maybe because, all of my life I've been wanting to have a younger sister. Maybe you are the answer, I'm keeping the faith...
Don't grow too fast, I wish to see your pure sweet smiles...
Love,
Emma
One of the best thing about rain is that everything seems moves in a slow motion. Bisa sejenak meredakan kepanikan saat menyadari ini hari Senin, apalagi harus bangun sejam lebih awal dari jam bangun normal. Kamar dingin tertutup rapat tapi aku masih bisa mendengar rintik-rintik hujan lalu memikirkan pakaian yang baru sempat kucuci tadi malam. Kubiarkan saja diguyur hujan, aku hanya menyelamatkan seragam yang mesti dipakai hari ini. Langit masih gerimis, tapi kuputuskan untuk menembusnya berjalan kaki.
Kantor masih sepi saat aku tiba tepat pukul 07.00, sejam sebelum rutinitas dimulai. Kepagian ini karena aku harus membawa kunci lemari penyimpanan kamera. Salah satu rekan kantor akan berangkat lagi ke Samarinda untuk event serupa yang baru saja kami jalani di Sorong minggu lalu. Setelah selesai, aku menghambur ke pantry begitu tiba-tiba ingat tayangan final Piala Konfederasi Brazil vs Spanyol yang kutinggal tadi pagi karena harus ke kantor. Karyawan lain berdatangan, silih berganti masuk pantry untuk cek skor terakhir. Sebagian besar berlalu lagi, angka 3-0 memang sangat mencolok.
Cuaca masih mendung di luar, dugaanku. Udara makin dingin, jas yang biasa kubiarkan tidak terkancing, kututup rapat-rapat. Aku bertahan sampai selebrasi kemenangan berakhir, menyaksikan orang-orang di dalam layar merayakan kemenangan Brazil yang berjarak 12 jam dari sini. Far away, so close, kata Bono. With the satellite television you can go anywhere. Eforia nun jauh yang menghadirkan senyum di sela-sela letih yang masih kurasa akibat kegiatan kantor beruntun pekan kemarin.
Sepekan lagi bulan Ramadhan. Time does run!! Tahun ini, puasa lebih banyak akan kujalani di rumah Eby, hingga kontrakan rumah itu berakhir 1 Agustus nanti. Eby mengajakku pindah ke kosan barunya kelak. Namun kutolak karena kamar kos ku di kampus masih belum habis masanya. Belum mempertimbangkan untuk melanjutkan atau tidak. Hal-hal di luar kendali di luar perkiraan sering saja terjadi.
Aku belum menghubungi ibu dan bapak... Sabtu ini aku mendapat jatah off dari kantor. Semoga tidak ada kerjaan dadakan. Just wanna go home, feeling the afternoon sunshine behind my house while holding the fence, taking some deep breaths before starting over again...
Kantor masih sepi saat aku tiba tepat pukul 07.00, sejam sebelum rutinitas dimulai. Kepagian ini karena aku harus membawa kunci lemari penyimpanan kamera. Salah satu rekan kantor akan berangkat lagi ke Samarinda untuk event serupa yang baru saja kami jalani di Sorong minggu lalu. Setelah selesai, aku menghambur ke pantry begitu tiba-tiba ingat tayangan final Piala Konfederasi Brazil vs Spanyol yang kutinggal tadi pagi karena harus ke kantor. Karyawan lain berdatangan, silih berganti masuk pantry untuk cek skor terakhir. Sebagian besar berlalu lagi, angka 3-0 memang sangat mencolok.
Cuaca masih mendung di luar, dugaanku. Udara makin dingin, jas yang biasa kubiarkan tidak terkancing, kututup rapat-rapat. Aku bertahan sampai selebrasi kemenangan berakhir, menyaksikan orang-orang di dalam layar merayakan kemenangan Brazil yang berjarak 12 jam dari sini. Far away, so close, kata Bono. With the satellite television you can go anywhere. Eforia nun jauh yang menghadirkan senyum di sela-sela letih yang masih kurasa akibat kegiatan kantor beruntun pekan kemarin.
Sepekan lagi bulan Ramadhan. Time does run!! Tahun ini, puasa lebih banyak akan kujalani di rumah Eby, hingga kontrakan rumah itu berakhir 1 Agustus nanti. Eby mengajakku pindah ke kosan barunya kelak. Namun kutolak karena kamar kos ku di kampus masih belum habis masanya. Belum mempertimbangkan untuk melanjutkan atau tidak. Hal-hal di luar kendali di luar perkiraan sering saja terjadi.
Aku belum menghubungi ibu dan bapak... Sabtu ini aku mendapat jatah off dari kantor. Semoga tidak ada kerjaan dadakan. Just wanna go home, feeling the afternoon sunshine behind my house while holding the fence, taking some deep breaths before starting over again...
28 June 2013
Alright
Entah bagaimana aku harus membalas kebaikannya hari ini. Di kantor ini, ia orang pertama yang mengatakan aku berbakat menulis. tulisanku di blog ini mengingatkannya pada Jane Austen. Penulis roman "Pride and Prejudice". Belum pernah kubaca, tapi aku berjanji, sebagai bentuk terima kasih, akan kucari buku itu, membacanya sambil menduga-duga di mana kira-kira kemiripan itu. Jika ia berkenan mendengarkanku sekali lagi.
Hari ini ia menjadi terapisku, ditinggalkannya jarum rajut dan benang yang seolah sudah jadi bagian dari tangannya selama ini, hanya untuk mendengarkan kalimatku yang terpatah-patah, tidak terstruktur, terbata-bata, melompat dari satu tema ke tema lainnya. Hingga jam makan tiba, pandangan dan posisi tubuhnya tidak sedikitpun menjauh dariku. Ia seperti sedang menyimak cerita/dongeng paling menarik di dunia hingga ia tidak bergeming.
Ruang kerjanya adalah tempat pelarianku, saat kepenatan mulai melanda, saat orang-orang di ruanganku intonasi suaranya makin meninggi seiring berlalunya jam demi jam. Aku suka mejanya, tidak kaku, benang rajut di mana-mana, sebuah jam unik seperti yang pernah kulihat dalam video klip Warning nya Green Day, buku-buku tertata rapi salah satunya terselip kumpulan drama Shakespeare dan kamus tebal dengan kertas yang menguning terbitan Oxford, serta sebuah radio digital yang selalu disetel ke frekuensi stasiun radio yang hanya memutarkan lagu dalam negeri. Terkadang, setiap berlabuh di sana, aku merasakan sebuah dimensi lain, merasakan rumah.
"Tumben tidak cari koran lagi", celetuknya membuyarkan lamunanku saat menatap kapal dan laut dari jendela dekat mejanya. Tadinya aku mau meminjam telpon, sudah seminggu line telpon di ruanganku tidak berfungsi. Ketika ia mulai bertanya apakah aku baik-baik saja, dan saat aku baru akan menjawab iya, aku tahu dia tidak akan percaya. People just cant hide their eyes... And sometimes people just looking for that one simple question: are you alright?
Hari ini ia menjadi terapisku, ditinggalkannya jarum rajut dan benang yang seolah sudah jadi bagian dari tangannya selama ini, hanya untuk mendengarkan kalimatku yang terpatah-patah, tidak terstruktur, terbata-bata, melompat dari satu tema ke tema lainnya. Hingga jam makan tiba, pandangan dan posisi tubuhnya tidak sedikitpun menjauh dariku. Ia seperti sedang menyimak cerita/dongeng paling menarik di dunia hingga ia tidak bergeming.
Ruang kerjanya adalah tempat pelarianku, saat kepenatan mulai melanda, saat orang-orang di ruanganku intonasi suaranya makin meninggi seiring berlalunya jam demi jam. Aku suka mejanya, tidak kaku, benang rajut di mana-mana, sebuah jam unik seperti yang pernah kulihat dalam video klip Warning nya Green Day, buku-buku tertata rapi salah satunya terselip kumpulan drama Shakespeare dan kamus tebal dengan kertas yang menguning terbitan Oxford, serta sebuah radio digital yang selalu disetel ke frekuensi stasiun radio yang hanya memutarkan lagu dalam negeri. Terkadang, setiap berlabuh di sana, aku merasakan sebuah dimensi lain, merasakan rumah.
"Tumben tidak cari koran lagi", celetuknya membuyarkan lamunanku saat menatap kapal dan laut dari jendela dekat mejanya. Tadinya aku mau meminjam telpon, sudah seminggu line telpon di ruanganku tidak berfungsi. Ketika ia mulai bertanya apakah aku baik-baik saja, dan saat aku baru akan menjawab iya, aku tahu dia tidak akan percaya. People just cant hide their eyes... And sometimes people just looking for that one simple question: are you alright?
Subscribe to:
Posts (Atom)


