"Every time I see you in my dreams
I see your face
You're haunting me
I guess I need you baby..."
Padaelo, 120912
12 September 2012
29 August 2012
Sewindu
12 Agustus 2012
Hari ini, tepat 8 tahun lalu, saya resmi menjadi penduduk
Makassar. Dengan niat menuntut ilmu, merantau ke ibu kota yang mendengar
namanya saja langsung terbayang jauhnya perjalanan dan medan berliku yang mengaduk-aduk
isi perut. Perjalanan ini adalah cobaan yang mau tidak mau harus dijalani, demi
menginjakkan kaki di universitas idaman lulusan-lulusan SMA di Sulawesi Selatan.
Malam sebelum berangkat, aku melipat tumpukan pakaian yang
masih hangat habis dijemur saat kakakku Ahsan yang 3 tahun sebelumnya telah
meniti hidup di Makassar, muncul dari balik pintu.
“Lipat memang mi, mungkin ini terakhir kalinya lipat baju di sini,” ucapnya disambut tawa ringan ibu.
Aku terharu mendengarnya. Hari itu belum semenye-menye
sekarang jadi perasaan untuk pergi lebih ringan. Pakaian kusiapkan
banyak-banyak dibanding keberangkatan sebelumnya waktu ikut SPMB 2004.
Kabar kelulusan itu kudengar dari teman SMP ku, Awis, yang menghubungi lewat hape bapak. Aku
memang meminta tolong padanya untuk melihat pengumuman via internet. Kebetulan
Awis sedang di Makassar. Malam itu saya dan ibu duduk di depan tv dekat ruang
tamu tak jauh dari kamarnya. Aku duduk
di kursi, ibu melantai. Sementara hape kami biarkan menganggur, menunggu kabar
dari jarak 150 km. Kabar itu datang juga, aku sudah siap dengan hasil apapun. Mata
ibu tidak lepas dariku.
“Em, 812841 itu kode jurusan apa? Selamat ya kamu lulus di
situ!” sahut Awis
“Iya? Huaaaa… Itu Ilmu Komunikasi… Alhamdulillah lulus ya…
Mendengar kata ‘lulus’ itu, Ibu sontak berdiri dan menghambur memelukku. Belum pernah kulihat ibu sebahagia itu.. Hingga hari ini, aku menganggap itulah kebahagiaan terbesar yang bisa kuberikan. Matanya merah sementara aku masih terhubung dengan Awis. Mata merah yang sama kulihat lagi saat ia pamit pulang ke Bone setelah mengantarku ke Makassar. Sempat terpancing ikut menangis tapi khawatir ibu makin berat melangkah, jadi aku menggodanya dengan tersenyum seolah semuanya akan baik-baik saja.
"Eh, kamu bagaimana, Wis?"
Sayang sekali temanku tidak lulus tahun itu, namun dicobanya
lagi hingga 2005 ia bisa lanjut kuliah juga, setahun di bawahku hehehe.
![]() |
| FIS III tercinta :") (6 Januari 2005) |
Delapan tahun berlalu, menjadi saksi pelebaran jalan,
pohon-pohon rindang tepi jalan sudah ditebang. rawa-rawa yang ditimbun untuk ditanami
ruko-ruko baru yang berdampak jalanan tergenang jika musim hujan tiba , aksi-aksi
mahasiswa yang lebih sering menjadi bulan-bulanan media dan bahan
olok-olok mereka yang hidup mapan, bikin hati jadi perih, tempat-tempat nongkrong makin banyak yang
kerap menggodaku turun dari angkot.
![]() |
| Pintu Satu Univ Hasanuddin sebelum renovasi (2 Maret 2005) |
Review: Madness
Akhirnya Madness, single pertama dari album terbaru Muse
diperdengarkan ke public 20 agustus kemarin. Happy yes! Bermodal sinyal wifi
pas-pasan di computer kak accang, pencarian dimulai. Resminya di putar di Radio
BBC pukul 04.00 WITA. Layaknya virus, filenya tersebar cepat, file mp3 nya juga
berhasil saya dapatkan. Fiuh..
Kesan pertama mendengar lagu ini: Linkin Park kolaborasi
dengan U2. Paruh pertama lagu seperti mendengar In the End versi Reanimation
(dulu punya kasetnya ntah di mana sekarang), sound drumnya tunggal tanpa
variasi, berbarengan dengan distorsi bas Chris yang sangat kental, tidak ada
gitar sama sekali. Barulah, pertengahan lagu, melodi Matt masuk yang langsung
mengingatkan saya pada sound Bryan May dari Queen. Melodi ini jadi pengantar ke
paruh kedua lagu, sound U2 sangat terasa, seperti mendengar suara gitar The
Edge, apalagi pas suara Matt makin mendaki dan mencapai puncaknya lalu
falsetto, saya seperti mendengar Bono di
lagu Sometimes you can’t make it on your own! Epic! Makin didengar makin enak.
I kinda enjoy it more than The Resistance.
“I have finally see the light…” Buat penggemar yang memantau
perjalanan ---- Matthew, pasti potongan lirik ini punya makna tersendiri. Dalam
sebuah wawancara, Matt sebagai one man show pernah berkata “There is no light
but brighter shadow”. Yeah, people change! Secara keseluruhan, liriknya adalah
kelanjutan dari perjalanan sang vokalis mencari cahaya. mengingatkan saya pada
lagu “Endlessly” “Guiding Light” yang
juga adalah pergolakan batin sang vokalis yang kini sudah punya penerus, the
baby boy Bingham Bellamy.
14 August 2012
Hearing Muse is Hearing Memories
This
life could be the last, and I'm too old to dream...
Petikan
lirik ini tiba-tiba melintas saat aku berada dalam angkot yang tengah membelah
kerumunan jemaah tarwih depan sebuah mesjid besar di Makassar, beberapa hari
lalu. Judulnya Blackout. Not long ago, kala kuliah masih jadi rutinitas
sehari-hari, aku sering mendengar lagu ini tengah malam. Lagu tengah malamku,
saat kelopak mata masih segara bertahan sampai dini hari, sesuatu yang sudah
tidak bisa kulakukan setahun terakhir.
Meski
sering kudengar, liriknya belum kuhapal benar, masih sering tertukar
bait-baitnya. Lagu ini cuma berani kudengarkan di malam hari. Istilah temanku: a transcendental song. Bawaannya merinding kalau
sudah dengar intronya. Matt Bellamy is mental! "Pada tahap tertentu could
bring you closer to divine", seloroh temanku. Ah, semoga nda lebay ya.
Aku
termasuk pendengar baru lagu-lagu Muse, 2004, saat memeriksa koleksi pirigan
cakra padat kak Pian (yes, dia lagi dia lagi) hasil perburuan di Saitama. Ada
tiga keping berlabel MUSE: Showbiz (1999), Origin of Symmetry (2001) dan
Absolution (2003). Pengalamanku mungkin sama seperti kebanyakan penggemar yang
baru ngeh waktu mereka merilis "Hysteria" dari album Absolution dan
itu menjadi jalan untuk menyelami lagu-lagu mereka yang sudah ada sebelumnya,
and it was fun, CD nya bahkan kubawa lari ke Makassar dan kak Pian tidak
tahu :D
![]() |
| Demi artwork ini, saya akan beli CD nya! |
Bagian menyenangkan lainnya adalah menunggu album baru mereka. Waktu Black Holes and Revelation (2006) dan The Resistance (2009) menunggu rilis, tiada hari tanpa kata "muse" di serach engine heheh. Setiap hari ke warnet buat cari kabar terbaru, via majalah online, twitter belum ramai waktu itu, dsb dsb. Bahkan sampai nginap kalau perlu demi nunggu donlotan! :D
Tahun
ini, tepat tiga tahun setelah album terakhir rilis, Muse akan kembali
meluncurkan album terbaru "The 2nd Law". Namun tidak segencar
tahun-tahun sebelumnya, kali ini aku lebih banyak duduk di depan laptop,
menunggu info itu datang sendiri di timeline twitterku. No more warnet, or
nginap di himpunan berburu lagu. Sudah bisa lebih bersabar kayaknya ya, hehehe.
Tapi suara Matt masih sering kudengarkan, baik langsung dari winamp, atau menghadirkannya
saja di kepalaku, seperti waktu berada di angkot pulang kantor itu.
![]() |
| thanks for 'ruining' my life |
A song is a good friend. I believe it, saat sendiri lagu menjadi penawar
sepi terbaik, teman yang membantu kita melawan lupa, meski terkadang hal-hal
yang ingin kita lupakan justru lebih banyak hadir di dalamnya...
Lantai 22, 140812
Waiting for The 2nd Law
11 August 2012
Hitam Putih
"When you photograph people in color, you photograph their clothes. But when you photograph people in Black and white, you photograph their souls!" (Ted Grant)
Iseng buka file-file foto yang saya capture beberapa bulan lalu. Tiba-tiba melintas ide mengolahnya menjadi hitam putih. Saya sangat senang foto hitam putih, seperti kata Ted di atas, foto hitam putih selalu punya magis sendiri. Warnanya memang hanya ada dua, hitam dan putih, namun kesan yang ditampilkan sangat beragam dan dalam. dalam foto hitam putih, waktu yang berlalu dapat dirasakan, isi hati yang terbaca lebih dalam dan bahkan terkadang kelam, seperti harapan yang terbenam dalam selembar foto (duh, mulai ngawur :p). Berikut beberapa foto yang saya transfer ke hitam putih via Photoshop.
- Ronald Fristianto, masih di acara Konser Reuni GIGI di Pantai Akkarena. Banyak yang bilang flare dari cymbal mengganggu tapi saya justru suka efeknya (muji foto sendiri)
- Sang Penari, foto ini saya take di Fort Rotterdam dalam acara yang disponsori kantor, maksimalnya cuma bisa dapat ini.
- Daffodil, si ponakan Daffa, jadi bahan eksperiman waktu dia datang ke rumah, hehehe, maapin tantemu nak
- The Bride, my friend Echy waktu resepsi nikah April 2012
- Kursi-kursi di rumah perahu di Pantai Bira, Bulukumba, end of January 2012
- The Couple, Kak Asri and Dewi, di Gowa 18 September 2011
- The Ufip Man, Ronald di balik cymbal kesayangan
- Yudisium, teman-teman angkatan plus senior cowok sebelum yudisium, Desember 2008
- Separation, nemu kerang kering di pinggir pantai sekitar Akkarena waktu acara outing kantor, Oktober 2011
- Foto paling keren yang pernah saya take, modelnya Dwi and baby Ara, Fort Rotterdam, Mei 2012
6 August 2012
Chasing Ronald
3
Juni 2012
“Iya, pas lagi jaman-jamannya kita
masih nonton Ksatria Baja Hitam. Trus kakak bawain kasetnya GIGI yang
sampulnya…mmm..mmm...” banyak kata berputar di kepala, aku tidak bisa
menyelesaikan kalimat ini
![]() |
| Sometimes in June 2011 I wrote this :)) |
Seminggu
lalu (27 Mei), setelah melewati berbagai titian pertanda dan memusatkan energi,
akhirnya saya berhasil mewujudkan mimpi bertemu dengan drummer idolaku Ronald
Fristianto. Alhamdulillah, terkadang saya geleng-geleng kepala sendiri setiap
mengingat rangkaian peristiwa yang harus dilalui untuk sampai ke sana, semua
terasa cepat dan possible. Awalnya saya menyangka hanya bisa melihatnya dari
kerumunan penonton, tapi kurasakan lagi hadirnya tangan-tangan tak terlihat
yang menuntunku pada salah satu momen paling penting dalam hidup.
“Pertama kali liat Ronald, saya masih kelas dua SD lho,”
kataku waktu menemuinya di belakang panggung.
Ronald dengan ekspresi terkejut
merespon, “waaaah kamu kecil banget!!”
| Formasi 1996, baju kaosnya kebesaraaaaan :p |
“Yang gambar kloset itu ya? ia
menimpali kemudian
Tanpa komando, kami tertawa
bersamaan. Oh sweetness...
***
GIGI sedang membawakan lagu beat
cepat, hingga pertanyaan tadi tidak jelas ia dengar… Lalu ia mendekatkan
telinganya… dooooohhh…. Siapa yang tidak tersanjung wkwkwk,,,
“ermus..” kataku lagi
“Ooooohh,.. kamu yang namanya
ermus,”
“iya,,, hehe”
“Mmmm… tadi kamu DM
ya, Sori tadi mau balas, tapi pending terus” jawabnya sambil memainkan stik
drum di kedua tangannya.
"They
say when you meet the love of your life, time stops, and that's TRUE. What they
don't tell you is that when it starts again, it moves extra fast to catch
up" (Big Fish)
Fans dan idola akhirnya bertemu...
hihihi. Rasanya seperti naik rollercoaster pas turun menukik, melambung lalu
terhempas, jantung rasanya lepas. Kalau istilah saya ke dwi, seperti
bulir-bulir kembang api yang menunggu padam, hening setelah meledak...
The Show
![]() |
| Konser Reuni Persahabatan GIGI, Akkarena, 270512 |
Tubuh saya masih terbalut seragam sekolah, belum sempat menggantinya karena baru saja tiba dari sekolah, saat kami mendapat kabar gembira itu. Bapak membawa tape baru, setelah sebelumnya kami terpuaskan oleh radio transistor tua miliknya. Kakak saya yang sudah menginjak usia SMP dan pergaulannya sudah luas, beberapa hari setelah itu datang membawa beberapa kaset, salah satu di antaranya sampulnya dominan broken white dan bagian depannya bergambar pispot, aneh…
Itulah persentuhan pertama saya dengan GIGI, adalah ketika saya masih umur 8 tahun, kurang lebih masih duduk di kelas 2 SD. Orang yang berjasa memperkenalkan, siapa lagi kalau bukan kak Pian, dialah yang membawa beragam aliran musik masuk ke dalam rumah kami. Tiada malam ia lalui tanpa lagu-lagu dari album Angan, hingga saya dan adik-adiknya yang lain sampai hapal lirik-liriknya.
![]() |
| Behind the scene 'Janji' (1994) |
Nada petikan okulele mengalun dan sampai di telingaku yang masih asik berada di belakang panggung, bercengkrama sejenak dengan salah satu eks personel Gigi. Memasuk paruh lagu, sang eks pun bersiap-siap naik ke panggung. Aku juga kembali mengutak-atik D7000 yang tergantung di leherku, juga bersiap mengabadikan momen paling ditunggu-tunggu dari konser malam itu.
![]() |
| Dewa dan Baron, terlalu cepat pisah euy! |
Teori bahwa chaos akan melahirkan order baru memang benar adanya. Keretakan tidak akan abadi. Mereka akhirnya bertemu lagi, mengobati kerinduan akan momen-momen bersama yang terasa begitu cepat berlalu saat itu. Saat Gigi hampir bubar justru saat sedang jaya-jayanya. Keakraban itu sangat terlihat saat konferensi pers dan juga saat di panggung. Permintaan agar mereka kembali ke formasi awal, saya yakin sudah sering mereka dengarkan. Setiap kali mendengar permintaan ini, Baron sebagai peletak tonggak sejarah Gigi hanya bisa menjawab diplomatis: semua formasi punya kekuatannya masing-masing. Meski demikian, manajemen GIGI memberi angin segar, bahwa mereka berdelapan akan mengerjakan proyek album bersama-sama… Hmmm… Sounds convenient…
![]() |
| Thomas and Opet, cool dua-duanya |
Sebelum “Sahabat” dimainkan, terlebih dahulu GIGI formasi terakhir membuka konser dengan “Sang Pemimpin”, “Bye-bye”, lalu diademkan dengan lagu “11 Januari”. Tidak banyak yang berubah dari terakhir show mereka di Makassar, 25 Juni tahun lalu.
![]() |
| Armand, pas lagi adem |
Mengenai
Dewa Budjana, saya angkat tangan deh, sulit mendeskripsikan musikalitasnya, dia
tidak tergantikan. Budjana adalah Gigi, Gigi adalah Budjana. Tidak ada sosok
gitar hero dalam dirinya namun ia adalah ruh band. Tetap kalem dan cool .Thomas
a.k.a Pak Haji makin berisi dan Hendy, si bungsu yang sempat bikin saya
merinding kala gebukan beringasnya seolah ingin merubuhkan panggung.
![]() |
| yang di tengah tidak tergantikan :') |
Kelar
lagu yang diangkat dari album "3/4" (tiga perempat) ini, para
personel berkumpul di tengah panggung. Budhy meninggalkan drum bergabung dengan
duo gitaris memainkan gitar. Ronald didapuk jadi drummer tunggal. Intro janji
mengalun, tidak hanya meniupkan gemuruh dari penonton tapi juga kabar buruk,
ini adalah pertanda nostalgi ini akan berakhir tidak lama lagi. BErsama lagu
Angan dan Nirwana, ketiga lagu yang di-medley ini adalah saksi masa kecil yang
menyenangkan.
![]() |
| Armand dan Ronald, pemandangan langka |
Subscribe to:
Posts (Atom)














