30 November 2009

November Reign

Beberapa saat lagi November ke 23 dalam hidupku akan berlalu. Ini tentang musim semi. Tahukah engkau, hujan paling indah adalah di bulan november, dan matahari terindah ada di akhir juli. Lihatlah, sedikit saja hujan membelai bumi, tanah raya menjadi hidup.

Kemarin kita masih berbicara tentang asa yang tidak pernah padam dan kerinduan akan kehidupan yang tidak berbatas. Hari ini, aku adalah pecundang dan engkau masih seorang petarung. Hidup sepertinya takluk di kakimu dan waktu mengiringi gerak semestamu.

Seperti yang engkau tahu, aku tidak berani bermimpi, dengan demikian alam raya tidak pernah melirikku, dan Tuhan tidak punya apa-apa untuk Ia peluk*. Aku masih bermimpi tentang telur-telur harapan yang akan menetas menjadi bahagia, entah kapan..

Happy Spring!!!
*) 'bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu' (Arai Sang Pemimpi)

28 November 2009

Mencoba Kue Keberuntungan


Random fortunes, do you believe?








Mari kita menengok seorang filsuf kontemporer asal Prancis, Alain du Botton. Dalam novelnya Tentang Cinta (On Love), ia menerapkan teori probabilitas dalam percintaan tokoh utama (yang tidak disebutkan namanya) dengan Chloe. Keduanya tidak sengaja bertemu di sebuah pesawat terbang. Apakah mereka benar-benar berjodoh ditakdirkan untuk bersama? Inilah yang dihitung matang-matang oleh sang pria ke dalam rumus-rumus statistik rumit. Hasil perhitungan menunjukkan kecilnya kemungkinan pertemuan itu, tapi mereka memang benar-benar bertemu dan menjalin cerita.

Seperti itulah kira-kira jika saya ingin menganggap semua bentuk kebetulan. Pada akhirnya, kata 'kebetulan' ini diganti dengan kata 'kejutan' mengingat nilai 'tidak ada yang namanya kebetulan', hehehe... Termasuk ketika saya mengenal sebuah aplikasi bernama fortune cookies (kue keberuntungan) yang dapat dilihat di facebook. Syahdan, dengan mengklik aplikasi ini kita akan mendapatkan sebuah kalimat bijak, petuah, keberuntungan, atau apa yang akan kita alami hari ini.

Melihat fortune cookie, saya jadi teringat film-film Asia Timur di mana terdapat adegan-adegan ritus keagamaan, di mana salah seorang jamaah mengocok semacam gelas bambu berisi stik-stik bertuliskan keberuntungan atau kesialan yang akan dihadapi dalam waktu dekat. Layaknya arisan, stik yang jatuh dari wadah tadi akan menjadi 'milik' orang tersebut. Ada yang percaya, ada pula yang tertawa setelah membacanya.

Anyway, saya menyempatkan diri mencoba kue keberuntungan maya. Sudah ada beberapa wisdom di tiap kuenya, kadang saya tertawa, senyum-senyum, atau mengerutkan kening. "Take a trip with a friend.""Merge your spirit life and your work", "You will touch the hearts of many", "Money is the root of all evil", "You are vigorous in words and action", "You will step on the soil of many countries." Tapi dari kesemua itu saya paling senang dengan wisdom ini: "You can't stop the waves but you can learn to surf."

Haruskah kita juga menerapkan teori probabilitas dan kelayakan untuk ini? Hahaha...saya nyaris tidak punya waktu untuk menghitung, meski dalam sehari rutinitas saya hanya tidur, makan, dan berangan-angan. Namun tidak ada salahnya yakin, apalagi terhadap persangkaan-persangkaan baik mengenai diri kita yang terdapat dalam fortune cookie itu, hehehe..

Bon Appetite!!!

Kenapa saya di-remove?

Saya pernah meng-add seorang public figure idola saya waktu usia sekolah menengah. Hingga terakhir kali saya melihat daftar teman, pada ikon fotonya masih ada tulisan ‘waiting for approval’, masih menunggu konfirmasi dari pihak bersangkutan. Kening saya berkerut menelusuri kemungkinan-kemungkinan permintaan saya belum diterima.


Saya malah jadi tertawa-tawa sendiri dengan pikiran-pikiran sinis ini: “wah, saya kan penggemar anda, kok tidak di-approve?


Apa saja kualifikasi yang harus saya miliki supaya saya bisa berteman dengan anda, tuan yang saya idolakan? Jawabannya sederhana saja, tuan idola ini tidak mengenal saya, modal ‘saya fans setia anda sejak SMP’ saja tidak cukup untuk membuat jarinya menekan ikon approve pada layar di hadapannya.


Akan halnya remove, saya pernah punya pengalaman aneh. Aneh dalam artian saya heran karena tiba-tiba di-remove oleh beberapa orang yang telah berstatus teman di Facebook. Kejadian ini bermula saat saya dengan sadar mengganti username dan foto profil saya. Tidak dalam waktu dua minggu, beberapa orang itu menghilang dari daftar teman saya.


Mungkin dengan ‘diri’ yang baru itu, saya menjelma menjadi sosok asing, tidak dikenal, berpotensi menjadi penguntit aktivitasnya di facebook, parasit info, the other yang tidak diharapkan kehadirannya di dunia Facebook, hingga akhirnya saya di-remove bahkan oleh teman yang telah mengenal saya dengan baik dalam keseharian.


Baik fasilitas approve maupun remove adalah dua kata yang sarat pertimbangan nilai dan kepentingan. Ikon budaya digital ini adalah wadah perwujudan keengganan seseorang berteman atau tetap menjadi teman orang-orang. Karena saya tidak tahu dia, dia asing, dia tidak boleh dapat informasi diri lewat profil facebook saya, saya hanya ingin bercengkrama dengan teman-teman saya, karena dia menjengkelkan, dia bukan bagian dari geng, dia bikin malu, dia membahayakan karir saya, bisa jadi alasan tersumbatnya kelangsungan hubungan.


Kita telah mengenal Facebook sebagai ruang terbuka dan menghubungkan orang-orang di seluruh dunia. Siapa yang tidak pernah mendengar jargon ini Give people the power to share and make the world more open and connected. Keterhubungan, siapa yang meragukan mesin deteksi Facebook? Keterbukaan, semua user bisa publikasi diri hingga terkenal lewat Facebook dan saya bisa jadi tukang gosip hanya dengan melihat dan mengamati profil atau info terbaru mereka lewat News Feed.


Namun, sadarkah Mark Zuckerberg (founder Facebook)bahwa keterbukaan yang diusungnya itu akan menjadi boomerang. Sebuah nilai jual yang menghancurkan pemahaman orang-orang mengenai konsep privat-publik dengan merubah norma-norma sosial yang dipahami sebelumnya.


Hal yang tak diperhatikan oleh jargon tersebut adalah bahwa setiap individu, kelompok atau masyarakat aneka warna memiliki cara pandang yang berbeda memaknai keterbukaan dan koneksi itu. Jauh dari keterbukaan versi pendiri Facebook. Jadi ketika jargon tersebut dihadirkan, pada saat itu juga Mark memaksakan suatu diskursus tunggal tentang keterbukaan.


Jika dunia yang lebih terbuka dan saling terhubung yang dimaksud oleh Mark adalah keterhubungan antar jaringan dan alat, maka ia sudah berhasil sejak pertama kali ia meluncurkan produk ini. Akan tetapi manusia bukanlah alat yang tidak berpikir dan tidak punya pilihan.


Hubungan antara privat dan penilaian orang-orang ‘luar’ yang melihatnya tidak dapat dipisahkan. Seseorang akan risih dan tidak nyaman dengan penilaian-penilaian budaya dan sosial hingga mempertimbangkan kembali informasi yang akan ia masukkan ke dalam akunnya.


Mark dkk memang pada akhirnya sadar. Maka yang kita lihat selama dua tahun ini adalah modifikasi tiada henti dalam hal filterisasi informasi meski akan mengikis konsep keterbukaan ala facebook itu dengan sendirinya. Siapa saja yang bisa mengakses profil, status, foto-foto, pembicaraan-pembicaraan saya, siapa saja yang bisa melihat saya sedang online, jumlah notifikasi yang masuk, bisa disaring sedemikian rupa demi kenyamanan pengguna. Jika semua filter ini belum dirasa cukup, Facebook punya fasilitas ‘remove’, daripada repot-repot men-setting privasi akun saya, mending langsung remove saja, no big deal…


Dari usaha-usaha yang terus diperbarui ini, Facebook makin menunjukkan dirinya sebagai negosiator ulung. Pernah suatu kali saya mau men-deactive kan akun saya. Tiap kali saya ingin menekan ikon deactivate, Facebook ini seperti salesman, yang tidak berhenti mempersuasi saya agar tetap menggunakan facebook dengan iming-iming privasi yang lebih tertutup, bahkan ‘mengancam’saya akan kehilangan teman-teman saya. (memang di dunia ini hanya ada Facebook saja?)


Kembali ke kedua tindakan sosial tadi, saya juga menimbang-nimbang kemungkinan alasan seseorang me-remove atau tidak meng-approve saya. Tidak ada masalah dengan hal ini. Setiap orang berhak memilih orang yang ingin dijadikan teman.


Di lain pihak Facebook telah berhasil memangkas jarak dan waktu yang selama ini jadi pagar pembatas fisik, namun apakah ia berhasil loncat pagar budaya yang lebih sering jadi ‘pengungkung’ sebuah hubungan atau interaksi. Well, Ini adalah cerita lain.


Seperti kata Mcluhan, media adalah perpanjangan tubuh manusia, tapi apakah terjadi perpanjangan budaya, apakah terjadi peleburan budaya lewat media itu, apakah sekat-sekat yang terbangun dengan sendirinya di ruang-ruang sosial ikut luruh bersama leburnya batas-batas fisik dalam dunia keseharian, adalah pertanyaan yang jawabannya ada di diri masing-masing orang yang mengalami sendiri sensasi media baru ini.


Oleh karena itu pertanyaan “kenapa saya di-remove? saya kan hanya mau berteman, ini kan situs pertemanan”, tidak akan menemukan jawaban, sama halnya jawaban yang ada tidak akan cukup memuaskan sang penanya jika tidak paham dengan pemikiran manusia yang terus bergejolak.

Untung saja sampai hari ini, News Feed tidak mengabarkan info bahwa orang ini me-remove ini, orang ini cabut dari ini ini? Wah bakal kacau jadinya…bisa-bisa terjadi keretakan-keretakan sosial yang diamati lalu digosipkan bersama-sama. Ah, ada-ada saja…

Midas

Suatu saat aku mendengar malaikat berbisik, "kesempatanmu lebih banyak darinya, lihat, tulang-tulangnya mulai rapuh, kulitnya bergelantungan seperti ditarik magnet bumi, tumitnya retak-retak, rambutnya berguguran... Lihat dirimu, rambut dan wajahmu berminyak oleh sel-sel tubuhmu bekerja penuh semangat dan tidak kenal putus asa, kakimu kokoh mencengkram tanah yang kau pijak, matamu melampaui masa dan semesta, dan kulitmu..., kulit yang kuambilkan untukmu dari kutub utara waktu engkau diciptakan, melekat erat di dagingmu, gravitasi tidak kuasa mengendalikannya..."

Ah, monolog apa ini? Aku tersadar saat melihat api sedang asik menjilati sebuah periuk besar berisi air.

Sepertinya malaikat numpang sesaat itu salah orang. Lebih tepat kalimat itu untuk seorang wanita di hadapanku yang berpeluk peluh. Tiap kali ia berlalu, tubuhnya meninggalkan aroma asap dari kayu lembab yang terbakar. Matanya tidak pernah lelap dan kakinya menjangkau seperti sanggup menapaki jalan puluhan kilometer.

Aku curiga sebenarnya ia adalah raja midas. Apapun yang disentuhnya akan memberi hidup dan mengundang decak kagum. Aku heran ia selalu mengeluh dengan tenaganya yang makin aus, tapi yang kulihat adalah wanita yang sama sejak aku menyadari kehadiranku di dunia. Yang berbeda kini hanya rasa masakannya yang makin kurang asin.

Selebihnya, ia masih jadi perempuan yang selalu membuatku cemburu. Orang-orang memuji ketekunan dan keuletannya, sementara aku tidak mewarisi sifat ini darinya. Dia sang raja yang perfeksionis, waktu adalah musuh yang harus ditaklukkan...Tidak seperti aku yang dengan mudahnya berdamai, bahkan walau tanpa iming-iming dari sang waktu yang sombong...

Yang Sunyi, Yang Kembali

Idul Adha ini aku pulang tiga hari lebih cepat ke Bone. Meski sebenarnya deadline tidak lelah mengejar-ngejarku dan tim, aku memutuskan untuk menikmati masa 'pengejaran' ini.

Aku tiba dini hari, dan mendapati kota kecil ini gelap karena mati lampu. Aku membatin, membayangkan kesulitan beberapa hari ke depan tanpa energi satu ini. Sunyi,,, sensasi yang kurasakan ketika aku turun dan mengetuk pintu rumahku yang tidak luput dari gelap. Ibuku menjawab dari dalam, samar-samar karena deru mesin panther sang supir yang menunggu upah.Pintu terbuka, aku lihat dari keremangan lampu mobil, rambut ibu terurai, tubuhnya hanya dibalut sarung kotak-kotak cokelat, mengulurkan tangan berisi uang dari balik pintu. Seperti kebiasaanku, aku bayar di tempat, uang di saku tidak cukup.

Mobil berlalu, lalu kesunyian kembali mengambil alih. Di rumah hanya tinggal ibu dan bapak yang terlelap lebih dahulu. Begitu aku masuk ke kamar kosong rumah bagian dalam, ibu langsung menutup sekat pembatas ruang depan dan dalam. Sedikit aneh, karena biasanya, ibu akan banyak bercerita sebelum ia melanjutkan tidur.

Aku juga menutup pintu kamar. Sambil rebahan, aku mengambil handphone serta earseat-nya yang masih terpasang. Gelap tidak cukup mampu membatasi pikiranku untuk jauh mengawang, dan lagu yang kuputar tidak sanggup memaku ingatanku. Dalam jantung, aku merasa ada keibaan sedang menusuk, dan rasa ngilunya bercampur dengan lelah perjalanan empat jam.

***


Kadang aku benci untuk pulang. Aku tidak tahan melihat kesunyian di mata ibu, bapak dengan rutinitas yang telah ia jalani setengah abad, dan kakakku yang mengumpat-umpat karena fenomena mati lampu. Kata ibu, entah ini didrama atau tidak, sedikit lagi kakakku bisa gila. Aku menggigit bibir mendengar ceritanya, dalam sehari lampu bisa padam sampai dua belas jam. Sementara, sumber pendapatan kakak sangat bergantung pada listrik.

Aku benci pulang, aku lelah mengingat, dan aku sedih setiap kali ibu mengingat pengalaman-pengalaman yang kami lalui bersama. Sayangnya, bukan hanya ibu yang terus mengingat, Imma, salah seorang teman SMA, aku takut jika ia mulai mengaku kesepian tanpa aku dan teman lainnya.

Pada setiap pandangan yang kulayangkan, yang kulihat tidak hanya dinding rumah, foto, kulkas, lemari, botol minum. Aku melihat coretan pertamaku, pengasuhku, ulang tahun idolaku (???), Jepang, susu panas dan pipet...

Sunyi...sunyi..sunyi...kesunyian mereka hanya akan menemukan obatnya di hari raya, tahun baru, libur semester. Mereka tidak pernah mengeluh dengan pola-polaku.

Aku bergidik, apakah oleh waktu yang melambat, atau waktu yang bergelinding seperti bola salju. Lima tahun lalu, aku dan teman-teman seangkatan berpencar ke tanah lain. Kupikir selamanya. Saat itu, aku selalu rindu pulang, tak tahan rasanya jauh dari rumah. Kini, tiap kali ibu menelpon karena kesendiriannya, aku hanya bisa berjanji, tanpa pasti bisa pulang.

Aku kaget saat seorang teman bercerita tentang reuni dengan teman-teman kelasnya. Ternyata lima tahun sudah berlalu, cukup waktu bagi mereka yang pernah merantau untuk kembali. Ada pertanyaan bodoh yang terlintas, apa yang akan mereka lakukan di sini. Kota ini sepi, apakah hanya aku yang syok?

Apakah hanya aku yang mengamati kesepian bekerja di hati orang-orang yang kusayangi. Pernahkah ibu, bapak, Imma, kakakku memikirkan kesunyianku? Mungkin mereka tidak sesepi yang kubayangkan, justru aku yang patut dikasihani...

24 November 2009

Home

Apa yang paling membahagiakan dari sebuah hari raya? Bagi kalangan mahasiswa rantau, tidak ada yang lebih nikmat jika bisa pulang berkumpul dengan keluarga. Demikian juga diriku yang masih merangkak di kota ini. Aku selalu rindu pulang, meski gravitasi Makassar terasa begitu kuat menancapkan kakiku.
Oh hari yang terberkati, betapa jauhnya aku darimu. Lepaskanlah penat dan gelisah ini. Legakanlah napas keseharianku yang terasa makin berat. Izinkan aku pulang dan terjaga dari keburukan. Bersihkanlah hati yang setia dipeluk karat-karat hitam nan kasar.

23 November 2009

Pineapple Juice Should've Made My Day

Hari ini terasa sangat panjang...
Tiba-tiba saya teringat dengan ucapan salah seorang guru kimia di SMA yang sangat kami takuti. katanya, orang yang paling panjang hidupnya adalah yang paling sedikit tidurnya. Entah ingatan inikah yang menggerakan alam bawah sadar saya untuk meniatkan bangun pagi hari ini.

Telah banyak waktu dan momen ajaib pagi hari yang saya lewatkan begitu saja. Ya, momen sederhana mungkin, menunggu matahari terbit, melihat sisa-sisa embun di pagar kayu depan playgroup salsabila yang bersebelahan dengan kamarku, menggigil karena mandi kepagian, merasakan udara pagi yang segar dan menusuk-nusuk hidung sampai harus baik-naik mengontrol napas.

dan pagi ini, aku memanjakan diri menikmati semua itu.

lalu apa yang membuat hari ini terasa begitu panjang?


Pertama, deadline berita untuk majalah internal Bosowa makin dekat, sementara Idul Adha juga di depan mata.
Mau tidak mau, hari ini aku harus menyelesaikan hutang wawancara dan berita untuk segera disetor ke Kak Ome (pimred kami).

Kedua, keinginan menyampaikan uneg-unegku pada Adrie Soebono perihal kans Muse mampir di Indonesia makin menggebu-gebu (wihhh...semangat 45 nih). So, setelah mencari-cari alamat mayanya, akhirnya aku menemukannya juga. Sekali lagi terima kasih kepada teknologi perpanjangan tubuh bernama internet. Pesanku sudah sampai di blognya, saking semangatnya, komentarku itu terposting dua kali!!! (nah, kali ini namanya tidak sabaran...). Harapanku, semoga saja ada respon dari laki-laki yang kerap disapa Om Adrie ini..


Ketiga, sebagai perempuan yang kadang sangat peduli dengan tanggal-tanggal khusus, aku menunggu kejutan apa yang akan mampir hari ini.
Kejutan penanda bagi usia yang makin bertambah. betul kata seorang teman lagi, ada suatu fase di mana engkau merasa sendirian di lingkaranmu. Mungkin kata ini tepat untuk gambaran hari ini. Namun sebuah kesalahan besar jika itu kemudian menjadi tolak ukur kepedulian mereka yang selama ini setia mendukung langkahku. I'm not gonna be so damn sad...

Jadi, sebenarnya saat ini aku hanya butuh segelas jus nenas -yang dingin, pekat sekaligus asam- untuk hari panjang melelahkan ini. Jus nenas ini kuanggap tepat untuk menenangkan penat, obat deg-degan, dan penghibur sepi.

Bisa bangun pagi adalah prestasi dan perlukah hadiah untuk pencapaian ini? Hahaha... untuk menyenangkan diri sendiri, mengapa tidak? Dan semoga saja mempertahankan pencapaian kecil ini menjadi target keseharianku selanjutnya. Feliz Compleanos, Signora!!!