13 May 2013

Semacam Moodbuster

Dia teman satu kelasku waktu SMP. Paling mudah dikenali karena dia yang paling cantik, no argue. Namanya Engka, jika ada waktu luang, Engka akan ke rumahku menyelesaikan PR dari sekolah atau aku yang jalan-jalan ke rumahnya jika ingin membaca edisi terbaru majalah Aneka Yess atau membicarakan sinetron remaja malam sebelumnya. 

Malam itu, aku baru tiba di depan kosan Eby saat pesan instannya masuk ke hapeku. Kami terhubung lagi setelah terakhir kali bertemu empat tahun lalu. She is now a mother of three. Ia bertanya tentang foto profil yang baru saja kupasang, foto Ronald hasil jepretan setahun lalu di Akkarena. Ternyata keduanya berteman di Path, envy her... aku belum punya akun di Path. Huaaaa... Jadinya aku titip salam via Engka, selengkap-lengkapnya sesuai hasil pembicaraan malam itu hehe. Dengan senang hati ia melakukannya untukku.

Pagi harinya, Engka mengirimkan screenshot yang ia janjikan *terharu*.  Made my day undoubtly :p

It's been a year by the way. Gee, time flies...


Dwi,

Kabar rencana kepulanganmu datang bersamaan dengan telpon ibuku. Hari itu ia menelponku menanyakan kabar setelah sebuah 'insiden cuci otak' oleh kakakku. Naluri mungkin, kalau anak perempuan satu-satunya ini sedang tidak stabil. Apa yang kudengarkan kemudian membuat mimpi-mimpi dan harapanku bermekaran kembali. Kalau katamu seperti mercon yang siap meledak di udara, Itu yang kurasakan juga begitu mendengar rencana-rencanamu ke depan, setibanya engkau di kota perantauan kita ini. I breath easily again.

Tidak sabar menunggumu pulang, jika perlu aku akan mendirikan tenda di bagian kedatangan di bandara :D

Sometimes in April

Hello April,

Apa ini kebetulan atau bukan, aku masih ingat postingan tahun lalu di bulan April tepat pada hari Jumat juga. Setahun berlalu, aku sudah dipindahkan ke anak perusahaan lain sebagai staf marketing, 'jauh' dari bidangku atau lebih tepatnya passion seperti yang mereka sebutkan di buku-buku pengembangan diri. 

Aku menganggap ini sekolah, tempat latihan dan dibayar, kata salah seorang karyawan saat kami satu lift. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di perusahaan ini aku sudah berikrar untuk tidak bertahan lama. Ini hanyalah tempat singgah, mungkin semacam pengalihan atau sekedar pemenuhan tuntutan sosial, menjauhi zona ketidakwajaran di mata orang-orang sebagai pengangguran.

Pagi tadi, aku belum terlelap sama sekali. Aku mengirimkan pesan teks untuk ibuku, isinya sangat sentimental. Sederhana, aku hanya berkata aku menyayanginya, menyayangi ayahku, dan betapa aku sangat bersyukur ber-orangtua-kan mereka. Hanya ingin mereka tahu bahwa mereka berarti. (Belakangan ini aku sering dikunjungi imaji-imaji ayahku yang sedang terbaring dikelilingi anak-anaknya, tersenyum seolah akan pergi). Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya menyadari kasih sayang justru pada saat-saat terakhir, mesti kata cinta sanggup mewakili banyak waktu yang telah hilang

Butuh beberapa saat sampai aku benar-benar menekan tombol 'send'. Hingga aku mengunci pintu kamar menuju kantor, belum ada balasan. Mungkin ibu sedang di dapur saat sms terkirim, ataukah karena butuh waktu lama baginya untuk menekan tuts handphone merangkai kata. Aku teringat tangan kirinya yang belum pulih benar setelah patah dua bulan lalu.

Sudah seminggu terakhir aku tiba di kantor tepat waktu. Atasanku kerap mengeluh karena divisi kami selalu jadi peringkat pertama indispliner. Di angkot, untuk pertama kalinya headset tinggal di tas saja. Telingaku agak lelah mendengarkan lagu-lagu, selain emosi juga lebih banyak terbawa karena suasana lagu. Aku belum tidur sejak kemarin, mendengarkan lagu bisa saja membuatku jadi berhalusinasi. Cuaca sedang soft, supir angkot juga tampaknya sangat kooperatif dengan tidak ngebut dan tidak terlalu pelan juga.

Dering penanda sms pertama di hari ini datang juga. Kukira dari salah satu penagih proposal yang belakangan ini  kerap membuatku stres. Dari ibuku ternyata. Kantor masih agak sepi, baru beberapa orang yang datang, beberapa karyawan dari divisiku sendiri juga sedang dinas ke luar kota. Membaca 'mama' di layar handphone sudah membuatku haru, aku membaca basmalah dan shalawat berkali-kali mencari kekuatan untuk membaca isinya. Aku tahu, beberapa saat lagi kelopak mataku akan jebol. Dan seperti itulah yang terjadi... Untungnya ruanganku dipasangi sekat-sekat antar meja, jadi drama pagi-pagi ini cukup aku yang menikmati...


19 April 2013

Patience

Seperti dugaanku semalam, pagi ini aku mendapat teguran dari atasan. Sebuah pekerjaan yang mestinya kuselesaikan sebelum kabur cuti panjang kemarin. Kalau kondisi seperti ini, aku hanya bisa menyalahkan diri. sumpah serapah dan kutukan kuucapkan untuk diriku sendiri dalam hati, meski sebenarnya sudah mempersiapkan diri dengan teguran ini, antisipasinya akan seperti apa.  Antisipasi itu berupa screen shot percakapan hampir tengah malam sembari berjanji begitu membaca teks itu, aku tidak akan sedih lagi. Aku belum membukanya lagi. Sekeluar dari ruangan atasan tadi, aku langsung tenggelam dengan aktivitas depan laptop. Dan bukannya menyelesaikan tugas kantor, aku malah mengutak-atik blog yang sudah tidak pernah kujamah hampir empat bulan, memasang header baru, yang kuharap juga mengembalikan ingatan-ingatan akan mimpi yang pernah ada...

Jika lubang di hati klepnya lepas lagi,  biasanya aku mendengarkan lagu favorit, baca sms-sms lama, atau ke Losari. Truly are the pain killers. Hari ini, aku kembali membuka blog teman-teman. Salah satu hal yang aku syukuri adalah teman-teman yang mau berkisah dan memaknai pengalaman-pengalaman. Terkadang bikin cemburu juga membaca kisah perjalanan ke tempat-tempat impian, yang kerap diceritakan dalam buku-buku fiksi.Kembali aku berniat mengutuk diri lagi, tapi kurasa sudah cukup. Cukuplah selera makan yang tiba-tiba hilang sebagai 'hukuman'.

Tentang liburan kemarin, sudah lama aku rencanakan. Sekalian menghabiskan cuti tahunan yang berakhir di bulan ini. Keinginan besar inilah yang membuatku lalai mengerjakan tugas hingga hari ini mendapat teguran dan sedikit ancaman diberi surat peringatan. Aku bertemu kakak ipar yang tengah hamil 3 bulan tapi belum memperlihatkan perubahan tampilan fisik yang berarti, menyampaikan ole-ole baju dan krayon buat dua ponakan yang makin besar, dan yang paling penting menghadiri pernikahan salah satu teman baikku semasa SMA, Fera. Persiapan cukup menyita waktu dan kesabaran. Kurang lebih dua hari dua malam, di rumahnya yang agak jauh dari rumahku, aku menemaninya menjalani rangkaian tradisi pernikahan. Dalam dua hari itu pula aku bertemu dengan teman-teman SMA yang selama ini hanya bisa saling mengintip status di dunia maya. Beberapa sudah menikah dan meneruskan keturunan, yang lain masih dengan kesendirian yang entah membuat nyaman atau malah risih.

Masih terngiang-ngiang kalimat kakakku, yang meminta aku kembali pulang, menemaninya membesarkan usahanya yang sudah ia rintis sejak dua tahun lalu. Perspektif dari ibu, ia memintaku bertahan, menyesuaikan diri sebisa mungkin. Sabar, memang tidak ada yang sepadan dengan kata ini. Energi yang tiada habisnya kata ibuku.Aku akan bertahan tapi mungkin tidak lama lagi. Sebuah mimpi tengah kuretas. Mimpi  yang sanggup membuatku tersenyum kala masa-masa tidak mengenakkan melanda dan mengucapkan lirih dalam hati: soon this 'sorrow' will be over... Dan seperti kata Axl Rose, all we need is a little patience...

31 January 2013

14 January 2013

The Hobbit, Obat Kangen

Akhirnya saya bisa juga menikmati Middle Earth versi bioskop, 3D lagi hehe. Saya termasuk telat menikmati kisah trilogy kolosal Dunia Tengah ciptaan JRR Tolkien. Selama ini saya hanya mendengarnya dari kakak kelas saya, Kak Agus, yang selalu yakin dirinya adalah Legolas. Baru saat saya berada di Sengkang awal tahun 2010 untuk penelitian, salah stasiun TV spesialis film-film klasik berkali-kali memutar film The Lord of The Rings (TLOR). Agak kesulitan menonton karena teksnya bahasa Kanji, saat pulang ke Makassar saya buru-buru mencari filmnya.

Meski saya nge-fans berat dengan Elijah Wood dan karakter Eowyn, tapi cinta sejati saya adalah Gandalf The Grey, sang pembuat kembang api. Begitu pun saat karakter ini muncul kembali dalam The Hobbit, sebuah prekuel TLOR. Gandalf diperankan sangat apik oleh Ian McKellen yang lebih dikenal sebagai magneto dalam X Men. 


Sepuluh hari sebelum rilis, saya membeli novel The Hobbit yang juga ditulis oleh Tolkien. Niatnya mau dapat gambaran lebih dahulu supaya bisa jadi bahan pembanding saat menonton versi film. Buat yang sudah menonton TLOR dan jadi fans setia, pasti sudah tidak ada masalah dengan visualisasi. Saya tidak bisa dan tidak mau membayangkan jadinya Middle Earth di tangan sutradara lain. 

The Hobbit bercerita tentang Bilbo Baggins, 60 tahun sebelum kisah TLOR dimulai. Diceritakan, paman Frodo ini dijebak menjalani petualang mencari harta karun di The Lonely Mountain (Gunung Kesunyian). Skrip filmnya sangat berkembang, beberapa dialog dalam novel juga muncul dalam film. Beberapa adegan/dialog ditambahkan untuk mendukung kontinuitas dengan kisah TLOR, seperti saat Radagast sahabat Gandalf mengabarkan akan adanya kekuatan yang bisa menghidupkan kembali jiwa yang telah mati dan saat Gandalf menyampaikan kegelisahannya selama perjalanan menuju Rivendell (kampungnya para peri), di mana mereka dihadang serigala Ward dan Orcs yang kelak menjadi kaki tangan Sauron.  

Yang berbeda mungkin penggambaran para kurcaci. Jika di film ke-13 nya nampak gagah, plus propaganda merebut kembali tanah/kerajaan yang hilang, di novel kesan yang saya tangkap, para kurcaci ini lugu, polos, dan berada dalam perjalanan yang menyenangkan semata mengambil harta karun dari Sang Naga Smaug. 

All I want for New Year is Gandalf, mau minta kembang api
The Hobbit semacam obat bagi yang kangen pada Shire (kampungnya pada Hobbit), Rivendell, dan kalau saya pribadi pada keluguan Frodo dan kebijaksanaan Gandalf. Martin Freeman memerankan Bilbo dengan sangat baik, bikin kangen malah. Adegan favorit yang saya nanti-nanti adalah ketika Bilbo menemukan cincin bertuah, lengkap dengan backsound yang mau tidak mau mengembalikan ingatan tentang kisah yang menyertainya sejak dahulu hingga saat ia dihancurkan. 

Satu yang pasti juga, saya masih ingin mengunjungi Wellington yang menjadi setting Shire yang hijau dan makmur itu. Dalam perjalanan pulang dari Soppeng tadi, mobil yang saya tumpangi melalui jalur Bulu Dua. Hamparan lereng pegunungan, bukit batu, dan air terjun membuat saya berpikir, kalo lokasi ini sebenarnya juga bisa jadi setting cerita TLOR, hehehe… Iya, soalnya saya melihat Legolas, Gimli, dan Aragon berlari-lari di antara pepohonan di lereng-lereng dan pinggir jalan. Ah, mulai ngelantur nih :p

Edward Bloom

"And I suppose if I had to choose between the true version and an elaborate one involving a fish and a wedding ring, I might choose the fancy version. But that's just me."

Untuk sejenak, saya ingin seperti Dr. Bennett yang mengatakan kalimat ini, dalam film Big Fish. In fact, I wish I were Edward Bloom, the leading role. Dalam kisah ini, Edward adalah seorang ayah yang suka menceritakan kisah hidupnya pada sang anak, Will. Kisah Edward selintas lebih mirip dongeng yang sulit terjadi di dunia nyata. Penyihir, Puddleville, dua perempuan dalam satu badan, ikan besar, raksasa, dan hal-hal mustahil lainnya. Hingga sang anak beranjak dewasa, ia mulai jenuh dan menganggap semuanya omong kosong, termasuk kisah saat ia dilahirkan.

"I kind of liked your version", kata Will setelah mendengar kisah 'sebenarnya' dari dr. Bennett saat ia lahir ke dunia.

Terakhir kali saya menonton film ini, sekitar dua tahun lalu. Ingatan yang terus menggema tentang Edward, selain saat melamar istrinya (yang selalu bikin saya meleleh), juga adalah kepiawaian Edward dalam bercerita. Beberapa dari keberatan Will juga terpikirkan olehku. Will hanya menginginkan kejujuran, cerita sesungguhnya tanpa bumbu-bumbu mistis dan keanehan yang membuatnya terdengar lebih drama dan mudah dikenang.

Bagaimana kira-kira Edward mereka ulang kisahnya, mengolahnya dengan 'imajinasi-imajinasi' yang membuat Will jengah namun justru sangat disenangi istri Will, Josephine. Maybe I'm more like Will, tidak peduli betapa pahit sebuah realita, selama itu jujur dan sungguh-sungguh, itu jauh lebih berarti. Daripada bahagia tentang hal yang sebenarnya tidak ada.

Hingga Kamis lalu, sebuah keadaan tiba-tiba membuat saya terkenang Edward. Semacam 'wangsit' yang tanpa tedeng aling-aling memutarkan imaji di kepalaku, lengkap dengan alur dan bumbu-bumbu cerita khas Edward. It's gonna be a good story to tell, yeah, akhirnya saya bisa seperti Edward, merasakan bagaimana ide itu datang, dan... yang buruk mungkin, yang berusaha kulawan selama ini: perasaan bahagia saat menceritakan ulang keadaan itu.

But then I remember, kalimat yang sering saya berikan kepada teman jika bertanya apa yang harus mereka lakukan: "Mau percaya yang mana? Yang bikin bahagia atau yang bikin sedih?" This time I choose to be happy with this , undoubtedly.


Saya janji, suatu saat akan menceritakannya, with my very own version :D